Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

Pemanfaatan Sumberdaya Alam dalam Ekonomi Islam

Bulan kemarin, kabut asap menjadi topik yang hangat diberitakan oleh media. Kabut asap ini terjadi kurang lebih sudah terjadi selama 2 bulan dengan daerah yang paling parah adalah provinsi Riau. Riau menjadi daerah yang paling parah karena sebagian besar titik api penyebab asap berada di wilayah Riau. Asap yang muncul bukanlah tanpa sebab, ini terjadi karena adanya pembukaan lahan dengan cara dibakar. Berdasarkan hasil monitoring satelit NOAA 18, titik api yang terdeteksi mencapai 145 titik.
Karakteristik lahan di Riau merupakan lahan gambut. Lahan gambut merupakan jenis tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk sehingga memiliki kandungan bahan organik yang tinggi. Kebakaran pada lahan gambut cukup susah dipadamkan, karena api yang menyala tidak hanya di permukaan tanah tetapi juga di dalam tanah. Inilah yang membuat penanganan kebakaran lahan gambut cukup lama meski pemerintah sudah mengerahkan pemadam kebakaran.
Tentu asap kebakaran hutan ini sangat merugikan dan dapat menimbulkan eksternalitas negatif. Dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat Riau adalah pencemaran polusi udara. Pencemaran ini sangat mengganggu ativitas masyarakat dan menyebabkan penyakit saluran pernapasan. Bahkan pekan lalu tingkat pencemaran udara mencapai level tertinggi yaitu sangat berbahaya.
Menurut Menko Kesra kerugian ekonomi mencapai 10 trilyun rupiah, terutama di dunia penerbangan. Akibat lain kabut asap ini yaitu 50.000 lebih penduduk Riau menderita ISPA dan 3 orang meninggal karena asap dan kebakaran. Dalam ekonomi lingkungan, ada istilah damage assessment yang merupakan salah satu cara menilai kerusakan pada sumberdaya alam. Bisa jadi dengan cara ini kerugian akibat asap jauh lebih besar. Dampak tersebut berupa biaya pencegahan dengan melakukan modifikasi cuaca, bom air, pemadaman lewat darat dan sebagainya. Kerugian juga dapat dilihat dari cost of illness atau biaya kesehatan yang dapat dinilai dari biaya untuk mengobati 50.000 lebih warga yang terjangkit ISPA. Sektor perdagangan juga mengalami kerugian karena terhambatnya arus distribusi produk akibat penutupan bandara.
Pembukaan lahan dengan cara dibakar merupakan langkah yang paling mudah dan murah untuk mendapat keuntungan yang besar. Akan tetapi kerugian yang ditimbulkan ternyata jauh lebih besar. Hal ini bisa jadi karena pengaruh prinsip ekonomi yang berkembang di masyarakat saat ini adalah “berusaha mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya”. Ini merupakan prinsip ekonomi yang dikembangkan oleh negara-negara barat.
Seharusnya sebagai makhluk sosial, dalam melakukan aktivitas ekonomi baik itu produksi, distribusi maupun konsumsi juga memperhatikan dampak terhdap lingkungan sosial dan keberlanjutan sumberdaya tersebut agar bisa tetap dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Dalam Islam, sebenarnya Allah membolehkan manusia untuk memanfaatkan semua yang ada di bumi. “(Dialah) Yang menundukan untuk kalian apa yang ada di langit  dan apa yang ada di bumi” Q.S Al Jatsiyah:13.
   Mindset yang dibangun bukan memanfaatkan sumberdaya alam untuk menumpuk kekayaan akan tetapi memanfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Sehingga ada rambu-rambu yang mengatur dalam pemanfaatan sumberdaya alam tersebut. Al quran menjelaskan pada surat Al Baqarah:60, “Makan dan minumlah kalian dari rezeki yang telah Allah berikan dan jangan berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan”.. Hal ini diperkuat prinsip yang disampaikan oleh nabi “tidak memadaratkan diri sendiri dan tidak memadaratkan orang lain” (H.R Ibn Majah, Ahmad, Malik).
Rambu yang menjadi acuan adalah tidak berbuat kerusakan. Selain itu, pemanfaatan sumberdaya alam juga tidak boleh merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk menjaga rambu-rambu ini peran negara sangat penting. Dalam hal ini, pemerintah mesti menegakkan aturan dengan tegas, karena sumberdaya alam merupakan common property sehingga boleh dimanfaatkan oleh masyarakat. Jika aturan tidak benar-benar ditegakkan maka bisa saja terjadi Tragedy of The Common atau tragedi terhadap barang kepemilikan bersama, dimana sumberdaya tersebut akan habis karena dimanfaatkan terus menerus tanpa ada yang memikirkan keberlajutan suberdaya tersebut.

Islam memberikan solusi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Sumberdaya alam dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Al Quran dan As Sunnah sudah memebrikan rambu-rambu dalam pemanfaatn suberdaya alam. Menurut Al Ghazali tujuan syariah Islam adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan iman, jiwa, akal, keturunan dan harta. Sehingga jika pemanfaatan sumberdaya alam tersebut justru membahayakan jiwa, iman, akal, keturunan dan harta, atau sebagiannya maka sudah tidak sesuai dengan tujuan syariah. Jika hal tersebut terjadi maka negara wajib mengevaluasi dan mengambil tidakan untuk melindungi masyarakatnya. Tentu untuk mencapai kondisi yang ideal memerlukan perubahan terutama pada mindset tentang ekonomi. Dan Islam sudah menawarkan konsep ekonomi yang menyeluruh jauh-jauh hari sekitar 1400 tahun yang lalu.

Senin, 19 Agustus 2013

Something About L.O.V.E

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan – perempuan, anak – anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yag baik” (Ali Imran : 14)

Seandainya Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan pacaran, sepertinya saat ini sudah banyak aktivis yang berpacaran. Mungkin karena pacaran itu identik dengan kegiatan yang cenderung mengarah kepada zina makanya pacaran itu dilarang. Lalu bagaimana kalau pacaran tetap menjaga nilai – nilai syari? Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? Ah…kawan, sering kali logika keimanan kita kalah oleh logika perasaan. Lebih sering menuruti perasaan daripada keimanan kita. Lebih sering mencari – cari alasan syari untuk suatu pembenaran..
Rasa cinta merupakan rahmat Allah yang luar biasa, dengan cinta seorang ibu rela ‘menderita’ selama 9 bulan, dengan cintalah Ainun selalu menemani Habibie kapanpun dan dimanapun berada, dengan cinta pula Rasulullah memberi makan seorang buta yang selalu mencacinya. Cinta bisa membuat sesuatu yang biasa menjadi tampak luar biasa, mampu membuat energi yang dikeluarkan meningkat berkali lipat, akan tetapi jika bukan pada tempatnya cinta bisa membuat yang salah menjadi benar.
Sepertinya tantangan terbesar bagi aktivis bukanlah bagaimana membuat event yang menarik, bukan minimnya dana untuk kegiatan, bukan bagaimana mengelola organisasi yang baik, bukan pula mengelola individu yang berbeda dalam sebuah komunitas tetapi bagaimana mengelola hati jika muncul perasaan antar individu. Beberapa kali sempat mendengar kisah aktivis dakwah yang ‘menikmati cinta sebelum waktunya’,atau bahagia bisa merasakan “cinta”. Mungkin sebagian ada yang menyadari kalau apa yang mereka lakukan itu salah, namun sekali lagi kawan.. sering kali logika keimanan kalah oleh logika perasaan.
Pernah ada yang bilang pacaran memang enak kok, ada yang memperhatikan, ada yang selalu menanyakan “sudah makan belum?”, ada yang selalu mengingatkan jika salah, ada sosok yang bisa dirindukan kehadirannya, dan ada seseorang yang mengisi relung hati yang kosong. Yah..mungkin hal itu yang membuat logika perasaan lebih mendominasi daripada logika keimanan.
Kecenderungan manusia terhadap pasangan jenis (disebut pasangan jenis karena Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan bukan berlawanan –red) adalah suatu yang wajar, kadang seorang laki – laki cenderung merasa nyaman bersama wanita pun begitu sebaliknya. Jika muncul rasa cinta diantara mereka itu sesuatu yang baik jika dilakukan dengan tata cara yang diajarkan.
Fenomena ini bukan sepenuhnya salah kawan kita yang jatuh cinta, karena bisa jadi ketika dia butuh perhatian kita tak ada untuknya, ketika dia butuh semangat kita pun tak ada untuknya, dan ketika dia butuh orang yang mengingatkan kita juga tak ada untuknya sehingga ketika ada orang lain yang memberi perhatian, semangat dan mengingatkannya itu bak gayung bersambut. Dan akhirnya ia lebih merasa nyaman bersama orang lain daripada bersama kita.

Namun, bagaimanapun juga mereka yang ‘merasakan cinta’ tetap kawan kita, tetap saudara kita. Ukhuwah ini tak akan pudar meski kita kini “berbeda pandangan”. Maafkan kami yang tak ada ketika kau butuh, maafkan karena tak memberi perhatian yang cukup, dan maafkan kami jika telah membiarkan kau sendiri dalam kebingungan. Semoga Allah memberi hidayah untuk kita kawan.

Selasa, 23 Oktober 2012

Penggembala, Teladan Rasul dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan


 “di tempat terbuka ini, kehidupan memberikan kau kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni dengan tanpa hambatan.” (Umar bin Khattab)

Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dalam Firman-NYA Allah menyebutkan “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah – khlaifah di muka bumi...” (Q.S 35:39) sehingga sudah menjadi suatu fitrah dalam suatu kelompok, komunitas maupun institusi pastilah ada pemimpinnya, baik itu pemimpin formal maupun non formal. Bahkan dalam kelompok kecil sekalipun keberadaan pemimpin sangat dibutuhkan seperti yang dipesankan oleh nabi Muhammad “jika kalian bepergian maka angkatlah salah seorang diantara kalian menjadi pemimpin.”(Al Hadits)

Keberadaan sosok pemimpin merupakan peran vital dalam sebuah komunitas, dialah yang mengarahkan dinamisasi kelompok, menyelesaikan perkara yang terjadi diantara anggotanya, bertanggung jawab atas komunitasnya serta bisa juga merupakan simbol dari suatu komunitas. Tanpa adanya pemimpin, komunitas itu akan stagnan tidak ada pergerakan yang dinamis. Efeknya keberadaan komunitas itu pasti tidak akan bertahan lama. Contoh kecil dalam adegan peperangan yang sering kita tonton di televisi, jika salah satu pemimpin diantara dua kubu mati maka perang pun berakhir, pasukan yang kehilangan pemimpin ditawan dan daerahnya dikuasai. Eksistensi mereka sebagai pasukan sudah tidak ada lagi.

Sosok pemimpin ideal selalu menjadi topik yang hangat ketika ada suatu pemilihan baik itu tingkat desa, daerah, provinsi hingga tingkat nasional. Kata pemimpin ideal muncul karena dari berbagai pengalaman tidak semua pemimpin itu mampu menjalankan fungsinya dengan baik, bahkan keberadaan pemimpin justru menyengsarakan anggotanya. Banyak pemimpin yang ketika dia memimpin justru tidak dipercaya oleh masyrakatnya sehingga muncul-lah pergolakan dari arus bawah yang menginginkan pemimpin itu mundur. Berita terhangat saat ini yakni pergolakan Suriah, pergolakan yang cukup menyedot perhatian dunia. Pemerintah Suriah bertindak otoriter terhadap warga yang membangkang, bahkan perdana menteri Turki mengatakan Suriah telah berubah menjadi negara teroris yang melakukan pembantaian massal terhadap rakyatnya sendiri. Namun jauh sebelum pergolakan Suriah, ada beberapa pemimpin yang berhasil “diturunkan” oleh rakyatnya diantaranya Presiden Indonesia Soeharto pada tahun 1998, Zainal Abidin bin Ali atau biasa disebut Ben Ali presiden Tunisia pada tahun 2011 , Muamar Khadafi presiden Mesir pun pada tahun 2011. 

Jika kita berbicara sosok pemimpin ideal maka sudah sepatutnya kita menjurus ke satu nama yaitu Muhammad SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (Q.S 33: 21), Allah sudah menjamin bahwa dalam diri Rasulullah terdapat keteladanan termasuk jika kita berbicara pemimpin dan kepemimpinan. Banyak sekali kisah yang menceritakan tentang bagaimana kepeimpinan Rasulullah baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, bernegara hingga kepemimpinan dalam berperang. Oleh karena itu sekarang ini berkembang kepemimpinan profetik, kepemimpinan ala nabi. Kepemimpinan yang lebih banyak mengambil hikmah dari al qur’an dan memadukannya dengan menggali lebih dalam makna kepemimpinan para nabi, terutama nabi Muhammad.

Kepemimpinan nabi Muhammad bukan serta merta langsung Allah berikan kepada beliau, namun Allah memberikan kepemimpinan itu melalui proses yang luar biasa. Salah satu metode pengajaran agar Muhammad SAW menjadi pemimpin yang tangguh adalah dengan menjadikan beliau sebagai penggembala di usia belia. Menjadi penggembala merupakan amanah yang besar, mesti menjaga hewan peliharaan dengan baik, memberi makan, menggiring ke padang rumput dan kembali ke kandang, memastikan jumlah yang keluar dan yang kembali ke kandang sama, ini bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kepekaan perasaan agar seseorang mampu menggiring hewan, butuh kemampuan untuk memahami karakter masing – masing hewan hingga pada titik tertentu akan mengerti apa yang mesti dilakukan jika hewan peliharaan itu memberikan isyarat. Menjadi penggembala, proses inilah yang membentuk Muhammad SAW sebagai pemimpin jika terhadap hewan peliharaan beliau mampu menjaga dan memeliharanya dengan baik apalagi terhadap manusia yang sudah dibekali Allah akal untuk berpikir.

Seperti itulah cara Allah membekali karakter pemimpin dalam diri Rasulullah, hasilnya tak bisa diragukan lagi. Proses menjadi penggembala juga dialami oleh beberapa sahabat Rasul, salah satunya Umar bin Khattab. Sebuah dialog dalam film Omar, ketika Umar sedang bercakap dengan saudaranya di padang gembalaan,
 “di tempat terbuka ini, kehidupan memberikan kau kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni dengan tanpa hambatan. Dan untuk unta, ketika kau memperlakukan mereka seperti yang aku lakukan, kau akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pengurusan yang layak, kau akan bisa mengenal mereka secara individual. Tiap - tiapnya memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuannya sendiri. Tiap berkumpul pada kawanannya, tapi tidak ada 2 unta yang identik. Ketika kau menyadari penuh akan hal ini, kau mengurus mereka sebagai kawanan, tetapi kau melihat mereka sebagai individu. Kau akan baik kepada mereka sebagaimana ibu baik kepada anak-anaknya. Dimana ini berlaku untuk unta, inipun lebih berlaku lagi kepada manusia. Hidup mereka tak akan berkembang sampai mereka punya pemimpin yang mengurus urusan mereka.”
Kalimat itulah yang terlontar dari mulut Umar ibnu Khattab ketika menggembala unta – unta Khattab. Tak disangka beberapa puluh tahun kemudian seorang penggembala seperti Umar menjadi pemimpin kaum muslimin (Amirul Mukminin). Ini merupakan bukti bahwa para pemimpin terdahulu selalu belajar dari pengalaman dan kearifan lokal, hal yang sama pun bisa dilakukan oleh pemimpin saat ini, tidak harus menjadi penggembala terlebih dahulu akan tetapi meneladani bagaimana ia mau belajar dan mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa kemudian mengaplikasikan dalam karakter kepemimpinannya. 

Pemimpin itu tidak dilahirkan tapi diciptakan, kepemimpinan itu tidak diwariskan namun ia dibentuk melalui proses yang tidak sebentar. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang menyadari akan peran dan fungsinya sebagai khalifah (wakil Allah) di muka Bumi serta menyadari bahwa posisi yang ia dapatkan semata-mata rahmat dari Allah, bukan karena usaha dan kerja kerasnya. Oleh karena itu tanggung jawab yang ia emban bukan hanya kepada orang – orang yang dipimpinnya akan tetapi juga kepada Allah sebagai pemberi kuasa terhadap dirinya, seperti sabda nabi “Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak” (Al Hadits)

Senin, 09 Mei 2011

Ayam dan Pemimpin


Seekor induk ayam tampak sibuk dengan kelahiran tiga ekor anaknya yang baru saja menetas. Seperti komandan barisan, ia memimpin ketiga anaknya mencari makan di sekitar kandang. Kemana ia pergi dan bertingkah, seperti itu pula anak-anaknya mengikuti.

Suatu kali, induk ayam ini menginginkan hal lain bagi anak-anaknya. Ia ingin ketiga anaknya kelak menjadi ayam istimewa, bukan ayam kebanyakan. Ia ingin anaknya bisa belajar terbang seperti burung, berlari kencang seperti kuda, dan mahir berenang seperti ikan.

Sang induk ayam pun mengajak anak-anaknya mengunjungi burung bangau. “Hei bangau sahabatku! Bisakah kau ajari salah satu anakku bagaimana terbang?”

Walau agak keheranan, sang bangau menuruti permintaan induk ayam untuk mengajari seekor anak ayam terbang. Sang bangau mengajak anak ayam itu menaiki sebuah bukit. Dan setelah mengajari bagaimana mengepakkan sayap, sang bangau ‘mendorong’ sang anak ayam untuk lompat dari atas bukit. Ia berharap, sang anak ayam bisa terbang, sebagaimana ia diajari induknya ketika masih kecil.

Ternyata, bukan terbang yang bisa dilakukan sang anak ayam. Ia terjatuh dari atas bukit dan membentur sebuah batu cadas di dasarnya. Anak ayam itu pun mati.

Tanpa peduli dengan kematian itu, kini sang induk ayam mengajak dua anaknya mengunjungi kuda. “Hei kuda sahabatku, maukah kau mengajari salah satu anakku bagaimana berlari kencang?” ucap sang induk ayam sedikit agak memaksa.

Walau agak keheranan, sang kuda pun mengajak salah satu anak ayam ke tanah lapang. Setelah mengajari bagaimana menggerakkan kaki agar lebih cepat berlari, sang kuda mengikatkan sebuah tali yang menghubungkan antara ia dengan tubuh anak ayam. Dan, ia pun ‘memaksa’ anak ayam itu berlari kencang. Cara itulah yang ia dapatkan ketika ia diajari induknya ketika masih kecil.

Ternyata, bukan kecepatan berlari yang didapat si anak ayam malang itu. Justru, ia terseret dan tubuhnya tergesek bebatuan di sekitar tanah yang dilalui kuda. Sang anak ayam itu pun mati.

Kini, tinggal satu peluang yang dimiliki induk ayam. Ia dan anaknya yang tinggal satu pun pergi meninggalkan kuda untuk mengunjungi ikan. Sang induk ayam berharap, anaknya yang satu ini bisa belajar berenang seperti ikan.

“Hei ikan sahabatku, maukah kau mengajari anakku berenang?” teriak sang induk ayam ke ikan sahabatnya di tepian sebuah sungai.

Walau agak keheranan, sang ikan pun terpaksa mengajak anak ayam itu belajar berenang. Setelah mengajari bagaimana menggerakkan tubuh ketika dalam air, sang ikan ‘memaksa’ anak ayam menceburkan diri ke air sungai. Cara itulah yang pernah diajarkan kepada sang ikan ketika ia masih kecil.

Ternyata, bukan kemahiran berenang yang didapatkan anak ayam, justru, ia tak bisa nafas karena tersedak air yang terus masuk ke saluran nafas kecilnya. Anak ayam itu pun mati.

Kini, tinggal si induk ayam melamun dalam kesendirian. Ia masih terpaku dalam kebimbangan: anak-anaknya yang tidak bermutu, atau ia yang salah memperlakukan anak-anaknya.
**
Tidak banyak pemimpin yang mampu menimbang dengan adil antara keinginan dan obsesinya yang begitu tinggi dengan kemampuan yang dimiliki orang-orang yang dipimpinnya.

Alih-alih ingin meraih hal yang istimewa dari yang ia pimpin, justru orang-orang yang mengikutinya ‘berguguran’ tergilas obsesi para pemimpinnya. 

ini dicolek dari sini

Jumat, 15 April 2011

Eco Labelling, Sebuah Konsep Pelestarian Alam Berbasis Ekonomi


Bencana banjir yang akhir – akhir ini terjadi di sejumlah daerah di negeri kita tercinta seperti di Kudus, Gresik, Papua, dan Sumatra Utara membuat hati bertanya kapan bangsa ini tak ramai dengan bencana? Sudah Menjadi rahasia umum bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah cuaca yang tak menentu akibat Climate change. Climate change yang salah satu gejalanya ialah global warming (pemanasan global) memang sudah menjadai isu Internasional dimana semua Negara terkena dampaknya, badai salju di Amerika, mencairnya es di kutub utara dan antartika merupakan sepenggal kecil efek climte change. Beberapa fakta menyebutkan fenomena ini terjadi karena tereduksinya lapisan ozon (O3) akibat emisi gas yang semakin banyak sedang hutan sebagai paru – paru dunia semakin sedikit. Jika melihat lingkup Indonesia, emisi yang menjadi polusi tidaklah sebanyak Negara – Negara barat yang sangat mengandalkan Industri namun Indonesia juga menyumbang hilangnya hutan sebagai penetral polusi dan sebagai daerah resapan air.
Dunia pun mulai paham dan sadar akan gejala alam yang menjadi bencana global, dalam beberapa puluh tahun terakhir ada beberapa kebijakan dan perjanjian sebagai upaya menekan laju global warming antara lain Protocol Montreal yang merupakan perjanjian unutuk menekan depresi ozon yang berada di atmosfer dengan membatasi perdagangan Chloro Fluoro Carbon (CFC), gas yang dapat mereduksi ozon sehingga terjadi efek rumah kaca. Selain Protocol Montreal ada juga kebijakan debt for nature swaps yaitu lembaga pecinta lingkungan di Negara – Negara maju ‘menangani’ atau membayar sebagian hutang Negara berkembang dengan syarat Negara tersebut harus melakukan upaya perbaikan lingkungan. Lalu kebijakan yang baru diterapkan beberapa yahun lalu oleh Negara barat khususnya Eropa adalah penerapan ecolabel (Eco Labelling) untuk komoditas yang diperdagangkan secara internasional.
Secara umum, Eco Labelling menuntut bahwa setiap produk dagangan harus telah didasarkan pada kelestarian sumber daya dan ekosistem dari lingkungan hidup. Dimulai dari pengambilan bahan baku (misalnya kayu), pengangkutan bahan baku ke pabrik, proses dalam pabrik, pengangkutan produk pabrik ke konsumen, pemakaian produk dan pembuangan sampahnya (bekas pakai dari produk) secara keseluruhan tidak mencemari lingkungan(akrab lingkungan). Sertifikasi Eco-Labelling di bidang perkayuan adalah suatu cara untuk memberikan informasi kepada konsumen mengenai produk kayu yang dipasarkan kepadanya dalam bentuk suatu sertifikat atau Eco-Labell yang menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal atau dihasilkan dari suatu konsensi hutan yang dikelola secara lestari.1
Walaupun memang perlu diakui sertifikasi Eco Labelliing ini bukanlah hal yang murah, ini akan mengakibatkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang belum terlalu mapan akan tergilas. Sebab Negara di Eropa dan Amerika sudah memasukan sertifikat Eco Labelling syarat  komoditi, terutama kayu, masuk ke negaranya. Namun dampak negative ini masih relatif kecil jika dibandingkan benefit atau manfaat  yang dirasakan baik secara ekonomi maupun lingkungan.
Pada sisi ekonomi benefit ini dirasakan oleh UKM yang bersertifikat, khususnya yang memproduksi furniture kayu dan diekspor ke pasar Amerika dan Eropa. Dini Rahim, senior koordinator home furnishing Senada (konsultan yang didanai USAID), ia mengatakan kalau UKM Indonesia mengikuti prosedur dan tahapan dalam modul sustainable practises, maka produk furnitur buatan Indonesia akan semakin diterima pasar global. Apalagi, persaingan furnitur di pasar dunia makin ketat. “Kalau mengandalkan desain, mungkin desain dari Italia lebih bagus. Kalau mengandalkan harga murah, mungkin harga dari China lebih murah. Jadi, salah satu cara agar furnitur Indonesia mendapatkan hati di konsumen dunia adalah dengan adanya label dan sertifikasi produk,”2. Adanya Sertifikat Eco Label akan membentuk kepercayaan pada komoditi kayu  yang diekspor adalah komoditi yang ramah lingkungan. Hal tersebut dirasakan betul oleh PT Jawa Murni Lestari, UKM yang bergerak di bidang home furnishing. Selama krisis finansial yang mendera dunia belakangan ini, omzet perusahaan anjlok sampai 20%. Tetapi, karena perusahaan mengantongi sertifikasi, permintaan dari pasar luar negeri terus berdatangan. Walhasil, ketika perusahaan lain kolaps karena gonjang-ganjing ekonomi dunia, mereka masih bertahan. Bahkan, berhasil meraih laba bersih 1,13%.­3
Pada prespektif Lingkungan, kebijakan Eco label yang mengharuskan komoditi kayu yang diperdagangkan adalah kayu yang mulai dari proses pangambilan bahan baku sampai pemasaran produk dilakukan denagn ramah lingkungan. Bahkan ada beberapa Negara memastikan terlebih dahulu kayu tersebut bukanlah kayu hasil ilegalloging. Sehingga adanya eco label bisa menekan ilegalloging yang cukup merebak di berbagai daerah di tanah air.

1 www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/JAMBI/eco_labeling.html
2 Majalah Duit.co.id Senin, 30 November 2009
3 Majalah Duit.co.id Senin, 30 November 2009

Selasa, 12 April 2011

Kedudukan As Sunnah dalam Islam


As sunah merupakan penafsiran Alquran dalam penerapan ajaran islam secara faktual dan ideal. Seperti yang dinyatakan oleh aisyah r.a ketika ditanya oleh ayahnya tentang akhlak nabi “Akhlak beliau adalah Al Quran” sebagai penerapan ajaran islam maka Rasulullah ibarat Al Quran yang berjalan. Oleh karenanya siap yang ingin mengetahui ajaran islam lebih rinci dapat mempelajari Sunnah Nabawiyah yaitu: ucapan, perbuatan dan persetujuan nabi SAW.

Manhaj islam adalah manhaj yang komprehensif, seimbang, dan memudahkan. Komprehensif disini meliputi panjang rentang waktu kehidupan manusia sejak lahir sampai ia mati, lebar meliputi seluruh aspek kehidupan dan dalam mencakup “kedalaman” kehidupan seperti tubuh, akal dan ruh. Seimbang maksudnya ada di tengah-tengah seperti dinyatakan dalam QS Al Baqarah : 143 yaitu umat yan di tengah-tengah, maka ketika Nabi melihat sahabatnya condong ke arah “berlebihan” atau “ kekurangan” beliau segara megembalikan ke tengah (moderat). Memudahkan, islam dan sunnah nabi tidak ada yang memberatkan sesuai sabda Rasul “Sesungguhnya aku ini rahmat yang dihadiahkan (untuk seluruh manusia) dan firman Allah “Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” Al anbiya :107.

Kewajiban kaum muslim terhadap As sunnah
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Sunnah nabi adalah manhaj terinci bagi seorang muslim dan masyarakat muslim. Adalah kewajiban kaum muslim untuk memahami manhaj nabawi yang terinci dengan ciri khasnya yang komprehensif, saling melengkapi, seimbang dan penuh kemudahan seperti generasi muslim terbaik. Namun Rasul mengisyaratkan tentang apa yang akan menimpa ilmu kenabian serta warisan risalah akibat ulah kaum ekstrem, sesat dan bodoh. Kaum ekstrem telah menjauh dari jalan tengah,jalan lurus yang lapang, dan kemudahan yang sifat kewajiban syariat ini. Si kap Ghuluw (berlebih-lebihan) telah menjauhkan mereka. Kaum sesat melakukan manipulasi yang dimasukan ke dalam manhaj nabawi dengan bid’ah yang bertentangan dengan watak asli manhaj islam. Lalu penafsiran oarang jahl (bodoh) yang merusak hakikat agama islam, menyelewengkan konsepnya dan mengurangi integritasnya dengan menghilangkan berbagai hukum dan ajaran dari batang tubuhnya. Itu karena tidak adanya pijakan yang kuat dalam ilmu atau dalam upaya mencari kebenaran.

Beberapa prinsip dasar dalam berinteraksi dengan As sunnah An nabawiyah.
Hendaknya siapa saja yang hedak berinteraksi dengan As sunnah sebaiknya berpegang pada beberapa prinsip, pertama menelti dengan seksama tentang keshahihan hadits yang dimaksud sesuai denagn acuan ilmiah yang telahdietapkan oleh para pakarhaits yang dipercaya. Kedua meaami dengan benar nash-nash yang berasal dari nabi sesuai dengan pengertian bahasa dan dalam rangka konteks hadits tersebtserta sebab wurud oleh beliau, juga dalam kaitan dengan nash-nash Al Quran dan sunnah yang lain. Ketiga,memastikan bahwa nash tersebut tidak bertentangan dengan nash lainya yang lebih kuat kedudukannya baik yang berasal dari Al Quran atau hadits lain yang lebih banyak jumlahnya atau lebih shahih.

          As sunnah adalah sumber kedua dalam islam dalam bidang tasyri’dan dakwah sehingga agar As sunnah dapat memenuhi fungsinya harus terlebih dahulu kita meyakini bahwa hadits tersebut benar-benar beraal dari nabi SAW oleh karenanya ada ketentun dalam penentuan derajat hadits, hadit yang kita jadikan dasar bagi kesimpulan hukum atau dakwah adalah yang berpredikat shahih atau hasan. Menolak hadits shahih sama saja menerima hadits palsu, menerima hadits palsu merupakan perbuatan “memasukan sesuatu yang bukan dari agama ke dalam agama” sedang menolak hadits shahih berarti “mengeluarkan dari agama sesuatu yang merupakan bagian dari agama”. Keduanya adalah perbuatan tercela dn tak dapat diterima, baik berupa penerimaan sesuatu yang bathil atau penolakan sesuatu yang haqq. Namun ada yang menolak hadits shahih karena pemahaman yang keliru, ada sebagian orang yang menbaca hadits tergesa-gesa lalu mndapati makna tertentu khayalanya yang dijadikan sebagai bahan menafsirkan hadits tersebut. Dan manakala akalnya tidak menerima makna hadits tersebut  maka ia akan menolaknya. Padahal seandainya mau bersikap jujur dan adil serta merenung dan meneliti niscaya akan diketahui makna hadits itu tidak seperti yang ia pahami.

Kamis, 07 April 2011

Tumbangnya Mubarak dan Harapan Rakyat Palestina


Runtuhnya rezim presiden Mesir Hosni Mubarak  Jum’at 11 Februari 2011 lalu disambut suka cita oleh segenap warga Mesir dan beberapa negeri Timur Tengah lainnya. Rezim yang telah berkuasa selama kurang lebih 30 tahun itu akhirnya tumbang setelah dihempas aksi demonstrasi besar – besaran yang berlangsung selama 18 hari, dimulai dari tanggal 25 Januari 2011. Revolusi ini telah menarik perhatian dunia terutama AS dan Israel, pasalnya Hosni Mubarak adalah sekutu mereka yang membantu mengamankan posisi mereka di kawasan Timur Tengah.
Kemenangan warga Mesir merupakan bentuk kebebasan  atas ke-otoriter-an pemerintahan Hosni Mubarak yang berlangsung selama tiga dekade ini. Untuk sementara, setelah lengsernya Mubarak pemerintahan diambil alih oleh pihak Militer hingga diadakan pemilihan untuk presiden yang baru.
Kemenangan ini juga mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak di penjuru dunia, diantaranya Presiden Sudan, Omar al-Bashir yang menyampaikan selamat kepada rakyat Mesir atas keberhasilan mewujudkan keinginan mereka, bahkan menawarkan kepada mereka dukungan tanpa syarat setelah Presiden Hosni Mubarak digulingkan pada hari ke 18 protes anti-rezim. Seorang Ulama kenamaan di Timur Tengah yang terkenal memberi fatwa, Syaikh Yusuf Qhardawi menyampaikan komentarnya mengenai digulingkannya Presiden Hosni Mubarak, "Allah ingin memberikan penghargaan kemenangan ini kepada orang-orang Mesir". Tak ketinggalan pula warga Gaza di tanah Palestina juga turut merayakan kemenangan rakyat Mesir, langit-langit Gaza diterangi dengan kembang api ketika berita kemunduran presiden Hosni Mubarak tersiar.
Turunnya penguasa Mesir itu memberi berbagai dampak politik bagi Negara yang bersinggungan dengan Mesir, tak terkecuali bagi perjuangan warga Palestina yang berada di wilayah Gaza. Tumbangnya presiden Hosni Mubarak seakan sebuah menjadi secercah harapan baru untuk warga Gaza yang menderita akibat terror yang dilakukan Israel. Seperti yang kita ketahui wilayah Gaza diapit oleh Israel dan Mesir, Mubarak merupakan salah satu sekutu Israel yang paling diandalkan dalam agresinya ke wilayah Gaza, Palestina. Terbukti ketika terjadi serangan Israel atas Gaza pemerintah Mesir melakukan blokade yang menghambat proses pengiriman bahan bantuan baik itu pangan, pakaian, obat-obatan ataupun tenaga medis. Bahkan ketika blokade yang dilakukan Mesir mendapat kecaman dari berbagai Negara, mesir tetap tak bergeming sehingga perekonomian di gaza terhambat pada waktu itu.  
Kini turunnya Hosni Mubarak dari tahta kepresidenan Mesir membuat kekuatan persekutuan AS dan Israel dengan beberapa Negara Timur Tengah semakin berkurang setelah pada serangannya ke Palestina beberapa waktu lau, Turki memutus hubungan dengan Israel. Oleh karena itu selama hari – hari bergulirnya revolusi Mesir, Israel mencoba untuk campur tangan melalui wakil presiden Mesir Omar Suleiman yang merupakan mantan ketua dinas intelijen Mesir dan sekutu dekat AS dan Israel. Ketakutan yang menjadi kekhawatiran AS dan Israel adalah jika kekuatan dan kepemimpinan Islam tampil sebagai pemegang kekuasaan maka kesempatan AS dan Israel untuk menguasai Timur Tengah akan semakin kecil.

 Walaupun kini pemerintahan Mesir sementara mesih dipegang oleh militer yang menyatakan tetap akan menghormati perjanjian Internasional termasuk perjanjian dengan Israel, namun warga gaza tetap berharap pemimpin yang akan menggantikan Mubarak nanti akan mengeluarkan kebijakan – kebijakan positif yang bisa mendukung pulihnya kehidupan di wilayah Gaza seperti yang dikatakan juru bicara gerakan Hamas di Gaza, Abu Zuhri. Bahwa mereka menyerukan kepemimpinan Mesir yang baru untuk mengambil keputusan segera untuk mengangkat blokade Gaza dan membuka perbatasan Rafah secara permanen untuk memungkinkan pergerakan bebas orang-orang dan agar proses rekonstruksi Gaza segera dimulai.
Mesir merupakan salah satu Negara yang menjadi poros kekuatan di Timur Tengah, apalagi letaknya yang strategis berbatasan dengan jalur Gaza, daerah yang menjadi sasaran serangan Israel ketika melakukan agresi. Maka munculnya pemimpin yang arif dan bijak serta  bukan kaki tangan atau sekutu dari AS dan Israel merupakan harapan bagi penduduk Mesir bahkan warga Gaza yang berharap akan membawa perbaikan hubungan antara Mesir – Palestina.