Selasa, 23 Oktober 2012

Penggembala, Teladan Rasul dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan


 “di tempat terbuka ini, kehidupan memberikan kau kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni dengan tanpa hambatan.” (Umar bin Khattab)

Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dalam Firman-NYA Allah menyebutkan “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah – khlaifah di muka bumi...” (Q.S 35:39) sehingga sudah menjadi suatu fitrah dalam suatu kelompok, komunitas maupun institusi pastilah ada pemimpinnya, baik itu pemimpin formal maupun non formal. Bahkan dalam kelompok kecil sekalipun keberadaan pemimpin sangat dibutuhkan seperti yang dipesankan oleh nabi Muhammad “jika kalian bepergian maka angkatlah salah seorang diantara kalian menjadi pemimpin.”(Al Hadits)

Keberadaan sosok pemimpin merupakan peran vital dalam sebuah komunitas, dialah yang mengarahkan dinamisasi kelompok, menyelesaikan perkara yang terjadi diantara anggotanya, bertanggung jawab atas komunitasnya serta bisa juga merupakan simbol dari suatu komunitas. Tanpa adanya pemimpin, komunitas itu akan stagnan tidak ada pergerakan yang dinamis. Efeknya keberadaan komunitas itu pasti tidak akan bertahan lama. Contoh kecil dalam adegan peperangan yang sering kita tonton di televisi, jika salah satu pemimpin diantara dua kubu mati maka perang pun berakhir, pasukan yang kehilangan pemimpin ditawan dan daerahnya dikuasai. Eksistensi mereka sebagai pasukan sudah tidak ada lagi.

Sosok pemimpin ideal selalu menjadi topik yang hangat ketika ada suatu pemilihan baik itu tingkat desa, daerah, provinsi hingga tingkat nasional. Kata pemimpin ideal muncul karena dari berbagai pengalaman tidak semua pemimpin itu mampu menjalankan fungsinya dengan baik, bahkan keberadaan pemimpin justru menyengsarakan anggotanya. Banyak pemimpin yang ketika dia memimpin justru tidak dipercaya oleh masyrakatnya sehingga muncul-lah pergolakan dari arus bawah yang menginginkan pemimpin itu mundur. Berita terhangat saat ini yakni pergolakan Suriah, pergolakan yang cukup menyedot perhatian dunia. Pemerintah Suriah bertindak otoriter terhadap warga yang membangkang, bahkan perdana menteri Turki mengatakan Suriah telah berubah menjadi negara teroris yang melakukan pembantaian massal terhadap rakyatnya sendiri. Namun jauh sebelum pergolakan Suriah, ada beberapa pemimpin yang berhasil “diturunkan” oleh rakyatnya diantaranya Presiden Indonesia Soeharto pada tahun 1998, Zainal Abidin bin Ali atau biasa disebut Ben Ali presiden Tunisia pada tahun 2011 , Muamar Khadafi presiden Mesir pun pada tahun 2011

Jika kita berbicara sosok pemimpin ideal maka sudah sepatutnya kita menjurus ke satu nama yaitu Muhammad SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (Q.S 33: 21), Allah sudah menjamin bahwa dalam diri Rasulullah terdapat keteladanan termasuk jika kita berbicara pemimpin dan kepemimpinan. Banyak sekali kisah yang menceritakan tentang bagaimana kepeimpinan Rasulullah baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, bernegara hingga kepemimpinan dalam berperang. Oleh karena itu sekarang ini berkembang kepemimpinan profetik, kepemimpinan ala nabi. Kepemimpinan yang lebih banyak mengambil hikmah dari al qur’an dan memadukannya dengan menggali lebih dalam makna kepemimpinan para nabi, terutama nabi Muhammad.

Kepemimpinan nabi Muhammad bukan serta merta langsung Allah berikan kepada beliau, namun Allah memberikan kepemimpinan itu melalui proses yang luar biasa. Salah satu metode pengajaran agar Muhammad SAW menjadi pemimpin yang tangguh adalah dengan menjadikan beliau sebagai penggembala di usia belia. Menjadi penggembala merupakan amanah yang besar, mesti menjaga hewan peliharaan dengan baik, memberi makan, menggiring ke padang rumput dan kembali ke kandang, memastikan jumlah yang keluar dan yang kembali ke kandang sama, ini bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kepekaan perasaan agar seseorang mampu menggiring hewan, butuh kemampuan untuk memahami karakter masing – masing hewan hingga pada titik tertentu akan mengerti apa yang mesti dilakukan jika hewan peliharaan itu memberikan isyarat. Menjadi penggembala, proses inilah yang membentuk Muhammad SAW sebagai pemimpin jika terhadap hewan peliharaan beliau mampu menjaga dan memeliharanya dengan baik apalagi terhadap manusia yang sudah dibekali Allah akal untuk berpikir.

Seperti itulah cara Allah membekali karakter pemimpin dalam diri Rasulullah, hasilnya tak bisa diragukan lagi. Proses menjadi penggembala juga dialami oleh beberapa sahabat Rasul, salah satunya Umar bin Khattab. Sebuah dialog dalam film Omar, ketika Umar sedang bercakap dengan saudaranya di padang gembalaan,
 di tempat terbuka ini, kehidupan memberikan kau kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni dengan tanpa hambatan. Dan untuk unta, ketika kau memperlakukan mereka seperti yang aku lakukan, kau akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pengurusan yang layak, kau akan bisa mengenal mereka secara individual. Tiap - tiapnya memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuannya sendiri. Tiap berkumpul pada kawanannya, tapi tidak ada 2 unta yang identik. Ketika kau menyadari penuh akan hal ini, kau mengurus mereka sebagai kawanan, tetapi kau melihat mereka sebagai individu. Kau akan baik kepada mereka sebagaimana ibu baik kepada anak-anaknya. Dimana ini berlaku untuk unta, inipun lebih berlaku lagi kepada manusia. Hidup mereka tak akan berkembang sampai mereka punya pemimpin yang mengurus urusan mereka.
Kalimat itulah yang terlontar dari mulut Umar ibnu Khattab ketika menggembala unta – unta Khattab. Tak disangka beberapa puluh tahun kemudian seorang penggembala seperti Umar menjadi pemimpin kaum muslimin (Amirul Mukminin). Ini merupakan bukti bahwa para pemimpin terdahulu selalu belajar dari pengalaman dan kearifan lokal, hal yang sama pun bisa dilakukan oleh pemimpin saat ini, tidak harus menjadi penggembala terlebih dahulu akan tetapi meneladani bagaimana ia mau belajar dan mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa kemudian mengaplikasikan dalam karakter kepemimpinannya. 

Pemimpin itu tidak dilahirkan tapi diciptakan, kepemimpinan itu tidak diwariskan namun ia dibentuk melalui proses yang tidak sebentar. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang menyadari akan peran dan fungsinya sebagai khalifah (wakil Allah) di muka Bumi serta menyadari bahwa posisi yang ia dapatkan semata-mata rahmat dari Allah, bukan karena usaha dan kerja kerasnya. Oleh karena itu tanggung jawab yang ia emban bukan hanya kepada orang – orang yang dipimpinnya akan tetapi juga kepada Allah sebagai pemberi kuasa terhadap dirinya, seperti sabda nabi Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak (Al Hadits)

Selasa, 09 Oktober 2012

Allah emang The BEST :) !!


Kembali tersenyum melihat kejadian dan cerita siang tadi, senyum yang mengembang, gelak tawa muncul di tengah sebuah kepanitiaan. Mengingatkan kembali kepanitiaan tahun lalu namun kali ini dengan posisi yang berbeda. Allah itu memang Maha Adil ketika amanah datang bertubi-tubi, otak terus berputar memikirkan bagaimana jalannya acara, syaraf pun menegang saat tugas yang dibebankan tak kunjung usai. Dalan kondisi ini Allah ingin merefleksikan diri kita dengan peristiwa unik, tingkah laku yang mengundang tawa agar syaraf kita sedikit mengendur. Sekali lagi, Allah itu memang Maha Adil ketika jumlah peserta yang datang tidak sesuai dengan asumsi sehingga banyak konsumsi yang tersisa, akan tetapi dalam situasi yang sama ada juga beberapa panitia yang belum makan dan konsumsi pun akhirnya habis juga. Dan sekali lagi, Allah itu memang Maha Adiljika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Sangat mudah bagi Allah untuk membantu kita jika Allah menghendaki “jadi” maka “jadilah”.
Allah itu Maha Mengatur, saat kita sudah merencanakan dengan matang ingin mendatangkan Yusuf Mansur ternyata Allah pun mempunyai rencana lain, Allah tidak mengizinkan Yusuf Mansur datang kali ini. Malah Allah menggantinya dengan seorang trainer yang mau datang dengan segala keterbatasan kita. Untuk  menarik masa kita merencanakan mengundang Hadad Alwi namun lagi-lagi Allah berkehendak lain, Allah sedang mengarahkan rencana kita agar sesuai dengan rencana-NYA. Sebaik apapun rencana kita masih jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.
Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ketika masalah datang mungkin Allah rindu dengan doa – doa kita setiap selesai sholat, mungkin Allah ingin agar kita semakin sering ketemu dengan-NYA di dalam sholat-sholat sunnah, mungkin pula itu adalah cara Allah agar seorang hamba semakin dekat dengan-NYA. Allah itu Maha Mengabulkan, janganlah kecewa dan berputus asa saat kita sudah semakin dekat dan doa-doa pun dipanjatkan setiap waktu namun Allah belum mengabulkan doa kita. Bisa jadi Allah ingin kita lebih dekat dan mendengar doa kita lebih lama hingga mendekati agenda kegiatan kita karena bisa jadi ketika Allah mengabulkan segera permintaan kita, kita menjadi cepat senang sehingga doa-doa kita tak selama sebelumnya, tak sepanjang sebelumnya, tak sekhusyuk sebelumnya dan kedekatan itu mulai berkurang.
“Innallaha ma’asshoobiriin” Allah itu Maha Sabar dan Allah itu bersama orang yang sabar. Ketika kita bersabar, tidak banyak mengeluh, tidak banyak menyalahkan orang lain yakinlah Allah sedang bersama kita.  Tentu kita ingin acara kita sukses, kita ingin pesertanya banyak, kita ingin dananya surplus, kita ingin kesan yang baik dari peserta. Itu tidaklah salah kawan, namun janganlah hilangkan keinginan kita untuk mendapat keberkahan dari Allah, untuk dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan untuk dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Sang Khalik, Allah “Azza wa Jalla.

~ Salam ceria untuk kawan dan adik-adik panitia PEGAS 2012 ~
#Mozaik

Ahad, 7 Oktober 2012
@ kamar inspirasi

Minggu, 02 September 2012

Mahasiswa dan Agent of Change


Mahasiswa, yah itu lah kata yang menjadi dambaan para pelajar yang lulus SMA. Kata yang terbentuk dari kata Maha – Siswa menunjukan bahwa mahasiswa menempati strata tertinggi dalam dunia pendidikan Indonesia. Masyarakat awam menganggap bahwa mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki intelektualitas yang mumpuni. Ya intelektualitas, proses masuk ke perguruan tinggi untuk mendapatkan label mahasiswa memang tidaklah gampang dan tidak semua remaja lulusan SMA diberi kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Tercatat warga Indonesia dengan umur antara 18-25 tahun hanya sekitar 2 % yang menjadi mahasiswa sehingga wajar label intelek melekat pada diri mahasiswa.
Sayangnya intelektualitas (IQ) yang mumpuni sering kali tidak diikuti oleh kecerdasan emosi yang mumpuni. Kecerdasan emosi atau emotional quation (EQ) inilah yang sebenarnya membentuk siapa mahasiswa itu dikalangan masyarakat. Bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya,bagaimana ia memanfaatkan peluang dan bagamana ia bisa menjalin hubungan baik dengan rekan atau network yang dimilikinya merupakan beberapa hal yang seyogyanya dimiliki mahasiswa. Sebuah penelitian di AS menyebutkan bahwa faktor intelektualitas bukan menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi pekerjaan, IQ yang salah satu indikatornya bisa dilihat melalui IP hanya menempati urutan ke – 17. Penelitian ini menempatkan jujur sebagai pertimbangan utama setelahnya baru disiplin, kerja keras, dll. Ini menunjukan bahwa Emotional Quation sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia saat ini bukan hanya semata-mata mempunyai nilai bagus dan IP tinggi.
Emotional Quation sangat dekat dengan kata karakter dan hati, kecerdasan emosi bisa terlihat dari bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita bersikap dan bertindak, bagaimana kita bersimpati dan berempati terhadap orang disekitar kita yang semua itu bisa dirangkum dalam satu kata yaitu KARAKTER. Sedangkan HATI memegang peran bagaimana mengendalikan dan memfungsikan perasaan dalam perilaku kita sehingga tidakan yang dilakukan bukan semata – mata hasil analisa akal melainkan unsur emosi yang membuat tindakan itu menjadi pantas atau tidak pantas. 
Terjun ke masyarakat langusung merupakan salah satu cara untuk merangsang kecerdasan emosi mahasiswa agar berkembang. Berinteraksi dengan masyarakat, mengenal lebih dalam dan memahami kondisi sosio-kultural yang terjadi di masyarakat  bisa melatih hati untuk lebih peka tehadap lingkungan sekitar. Tentu hal ini berperan dalam mengembangkan peran mahasiswa sebagai agen of the change, sebagai agen perubahan tentu mesti tahu apa yang harus dirubah dan permasalahan bangsa ini sebagian besar terdapat pada masyarakat bangsa itu sendiri, kemiskinan, kesehatan, ketahanan pangan pelaku dan korbannya sebagian besar adalah masyarakat. Masyarakat merupakan bagian penting dalam sebuah negara, tanpa adanya masyarakat negara tidak akan terbentuk dan masyarakat pula yang menjadi entitas terbesar dari sebuah negara. Oleh karenanya mahasiswa sebagai agent of change ketika menjalani fase pembelajaran di kampus tidak hanya memikirkan bagaimana saya ketika lulus?saya mau bekerja dimana? Atau setelah lulus saya mau kemana? Akan tetapi sudah mulai dipikirkan ketika lulus nanti mau terjun di sektor apa? Manfaat apa yang bisa saya berikan untuk masyarakat dengan ilmu saya? Frame yang dibentuk adalah frame berkontribusi.

Program Kuliah Kerja Profesi (KKP) IPB merupakan program sangat cocok untuk melatih dan merangsang mahasiswa untuk berkontribusi, tidak hanya sekedar melakukan kewajiban akademik namun melatih mahasiswa untuk menjadi problem solver (sesuai kapasitas keilmuannya) terhadap permasalahan yang dialami oleh masyarakat di desa. KKP IPB menjadi sarana mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dan memotret kondisi masyarakat terutama masyarakat pedesaan baik itu kendala, potensi, dan karakter warganya. Walaupun hanya satu desa yang disinggahi namun setidaknya inilah salah satu potret masyarakat desa Indonesia dimana mahasiswa pada nantinya akan bersentuhan dengan mereka apakah itu terkait pekerjaan maupun lingkungan tempat tinggal. Terjun ke masyarakat melalui KKP ini mampu memberi input bagi perencanaan mahasiswa dalam persiapan pasca kampusnya, minimal tahu karakter masyarakat seperti apa sehingga medan kontribusi pada pasca kampus nanti sudah bisa diperkirakan dan dipersiapakan strategi untuk menghadapinya.
Pada akhirnya program untuk berinteraksi dengan masyarakat bukan hanya KKP IPB saja, masih banyak program yang datangnya dari mahasiswa seperti bina desa, bakti sosial dll yang memang bertujuan untuk merangsang emotional question para mahasiswa. Masa menjadi mahasiswa sangatlah terbatas, terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga yang paling tepat adalah menjadikan masa sebagai mahasiswa sebagai sarana belajar, belajar tentang keilmuan masing-masing (akademik) dan belajar tentang kehidupan.  - Ibnu Subandi - 

Senin, 26 Maret 2012

Ketika Hati Menyatu


Mungkin salah satu momen yang dinanti oleh setiap insan yang beriman adalah ketika ia tiba di saat menentukan dimana batas antara laki-laki memudar, saat dimana selesainya tanggung jawab orang tua terhadap putrinya, juga saat memasuki gerbang untuk mencetak generasi robbani yakni pernikahan. Di saat itulah 2 orang manusia yang berbeda jenis, berbeda karakter, berbeda pemikiran dan pandangan berhimpun menyamakan persepsi satu sama lain, mencoba untuk mengurangi ego pribadi dan tentu saja menentukan visi dan misi bersama yang akan dicapai selama mereka berkeluarga sehingga diantara mereka sudah tidak ada lagi kata “aku” dan “kamu” tetapi kedua kata itu melebur menjadi sebuah kata yang maknanya sarat akan kebersamaan yaitu “kita”.
Jika keluarga bisa dianggap sebagai miniatur suatu negara maka negara pun sudah seharusnya menerapkan hal di atas (mencari titik temu dan kebersamaan-red) karena pastilah mereka yang berada di kursi pemerintahan sudah berkeluarga. Betul? Namun pada kenyataannya di pemerintahan sana masih mementingkan ego, baik itu ego pribadi maupun ego kelompok. Banyak kasus yang sampai saat ini masih mengambang seperti kasus century, lapindo, mafia pajak dll. Penyebabnya sepele ada yang ribut apakah kita harus buat Panja (Panitia Kerja) ataukah Pansus (Panitia Khusus) Angket seperti yang terjadi pada kasus century dan mafia pajak maupun kisruh cicak vs buaya antara KPK melawan Polri yang benar-benar menunjukan adanya politik kepentingan di dalamnya, belum lagi jika ada pembahasan RUU maka partai yang merasa di untungkan akan mendukung sedang partai yang merasa dirugikan akan menolak. Banyak yang masih mendebatkan bahwa kita harus buat UU ini dan UU itu, banyak pula yang berbicara ini tugas lembaga ini dan itu tugas lembaga itu, masih banyak pula yang mengatakan ini hak dan wewenang saya dan itu hak dan wewenang kamu. Apakah ini karena ego pribadi (kelompok) yang masih kuat ataukah tidak adanya visi dan misi bersama atau visi dan misi bersama itu hanya sebuah formalitas hitam di atas putih??
Lalu bagaimana dengan pergerakan dakwah?? Apakah kata “kita” sudah terpatri dalam sanubari masing - masing individu??
Kita semua tahu kalau dakwah itu perbuatan mulia yang Rasul pun melakukannya, maka pelaku dakwah pun tak kalah mulianya. Kita pun tahu bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir, bahkan mungkin sebagian dari kita sudah hafal ayat yang mengatakan bahwa Allah menyukai hambaNYA yang berperang di Jalan Allah dengan teratur seperti suatu bangunan yang kokoh. Namun apakah hanya sebatas terorganisir dan teratur saja? Tentu tidak!!
Kita sering bebicara tentang perubahan, tentang peradaban, atau tentang menabur dan menebar kebaikan tapi perlu diperhatikan apakah kita sudah bekerja sama atau hanya bekerja bersama? Sudahkah kita meleburkan kata “aku” dan “kamu”? hingga tidak ada lagi kata ini tugas saya dan itu tugas kamu tetapi ini adalah tugas KITA, tidak ada kata ini hak dan kewajiban saya dan itu hak dan kewajiban kamu tetapi ini adalah hak dan kewajiban KITA, tidak ada lagi ini masalah saya dan itu masalah kamu tetapi ini adalah masalah KITA, tidak ada lagi ini untuk saya dan itu untuk kamu tetapi ini untuk KITA. Tidak ada pula yang berkata saya kan bukan organisasi ini, saya kan bukan organisasi itu tetapi organisasi itu adalah milik KITA. Dan ketika dalam dakwah ketika kata “aku” dan “kamu” bersatu menjadi “kita” maka akan memunculkan kinerja dengan multiplier efek yang besar karena tidak dilakukan oleh “aku” atau “kamu” tetapi dilakukan oleh “kita”.
Karena…
Ketika Aku dan Kamu bersatu semua terasa ringan
Ketika Aku dan Kamu bersatu semua terasa indah
Ketika Aku dan Kamu bersatu kita mampu merubah dunia…


Pulau Komodo dan Sustainable development Menuju New 7 Wonders

Promosi untuk menjadikan pulau komodo sebagai salah satu 7 keajaiban alam dunia semakin gencar pada beberapa waktu terakhir ini. Berbagai elemen masyarakat mendukung kampanye pulau Komodo supaya menjadi New 7 Wonders in the world. Untuk mewujudkan itu dan mengajak partisipasi warga Indonesia, mantan wakil Presiden RI, Jusuf Kalla diangkat sebagai duta Duta Pulau Komodo, bahkan sejak pemilihan dilakukan dengan voting via sms, tim Pendukung Pemenangan Pulau Komodo yang diketuai Emmy Hafild menggandeng operator agar bisa mendapatkan biaya murah. Hasilnya terbukti ampuh, sekarang sms mendukung pulau komodo sebagai New 7 Wonders hanya Rp. 1,- saja dan progress dukungan semakin meningkat. 
 Dalam berbagai kesempatan JK selalu mengajak masyarakat agar mengirim vote melalui sms, entah dalam pertemuan-pertemuan yang ia hadiri maupun melalui media cetak dan elektronik. Ajakan ini begitu gencar di media-media, JK mengatakan bahwa ini adalah cara termurah untuk mengangkat perekonomian Indinesia khususnya Nusa Tenggara Timur selain kita juga bisa memperkenalkan salah satu asset pariwisata nasional kepada dunia1.
Secara ekonomi terpilihnya pulau Komodo sebagai New 7 wonders dapat menjadi kekuatan ekonomi baru apalagi untuk Indonesia yang salah satu kegiatan perekonomian yang banyak menghasilkan devisa justru dari sector pariwisata. Jika terpilih nanti pulau komodo berpotensi besar untuk menyedot turis-turis domestic maupun mancanegara untuk datang menikmati keindahan pulau komodo. Sehingga pendapatan nasional akan naik yang diikuti meningkatnya perekonomian Indonesia khususnya wilayah NTT.
Namun jika semakin banyak turis yang berkunjung maka akan sangat berpengaruh pada carrying capacity (daya dukung lingkungan) sehingga adanya kampanye ini juga harus diselaraskan dengan konsep sustainable development sector pariwisata. Carrying capacity (daya dukung lingkungan) adalah kemampuan lingkingan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain2. Daya dukung juga dapat didefinisikan sebagai tingkat maksimal hasil sumber daya terhadap beban maksimum yang dapat didukung dengan tak terbatas tanpa semakin merusak produktivitas wilayah tersebut sebagai bagian integritas fungsional ekosistem yang relevan. Sedangkan sustainable development menurut World Commission on Environment and Development (WCED 1987) merupakan strategi pembangunan yang memperhatikan aspek pertumbuhan ekonomi dan kelestarian Lingkungan dapat berjalan beriringan untuk masa kini dan masa mendatang.
Sector wisata (alam) erat hubungannya dengan ekonomi dan lingkungan,wisata dapat menarik pelancong untuk berkunjung yang menyebabkan perputaran uang semakin besar namun juga mengakibatkan externalitas negative pada lingkungan, seperti limbah yang dihasilkan pengunjung maupun pengelola, polusi tanah, air, udara, overload pengunjung, terganggunya satwa yang berada di sekitar wisata tersebut. Sangat disayangkan jika pemerintah mengkampanyekan pulau komodo namun tidak menyiapkan faktor-faktor pendukung agar wisata tersebut berkelanjutan.


Konsep sustanaible development of tourism sebenarnya sederhana yaitu bagaimana kawasan wisata sebagai kegiatan ekonomi dikembangkan dengan ramah lingkungan sehingga sumberdaya yang ada bisa digunakan secara berkelanjutan. Adapun tujuan utama sustanaible development of tourism, pertama, meningkatkan kontribusi wisata terhadap lingkungan dan ekonomi. Wisata sebagai sumber kegiatan ekonomi harus memperhatikan lingkungan agar tetap lestari tidak hanya mengedepankan profit. Wisata dengan lingkungan yang lestari juga meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pengunjung. Kedua, pemerataan kesejahteraan dan pembangunan, kesejahteraan yang diperoleh dari hasil wisata hendaknya tidak hanya menguntungkan kepada investor maupun pihak pengelola saja namun juga menyejahterakan warga sekitar. Baik mendukung secara ekonomi maupun secara infrastruktur untuk mengembangkan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ketiga,  terjaganya kualitas lingkungan, lingkungan yang baik akan mendukung keberlangsungan wisata itu sendiri karena potensi sumberdaya yang dimanfaatkan bisa diperbaharui dan digunakan kembali untuk waktu mendatang.
Syarat sustanaible development of tourism meliputi :
1.    Alam, sejarah, budaya, dan sumberdaya lainnya dikonservasi untuk kepentingan masa kini dan masa mendatang sehingga mampu menghasilkan profit yang optimal.
2.    Pembangunan wisata harus direncanakan dan dikelola dengan mengedepankan aspek lingkungan dan sosial.
3.    Pengelolaan dan pembangunan wisata tidak berlebihan, cukup sesuai kebutuhan saja agar kualitas lingkungan tetap terjaga.
4.    Terjaminnya kepuasan wisatawan, wisata yang menarik dan pelayanan yang memadahi.
5.    Keuntungan wisata tidak dirasakan oleh beberapa pihak saja namun dirasakan oleh masyarakat secara luas.
6.    Ada indicator berupa kelestarian tempat, tekanan, intensitas penggunaan, dampak sosial, kontrol pengembangan, manajemen limbah, proses perencanaan, ekosistem, kepuasan pengunjung, kontribusi wisata terhadap masyarakat setempat (Mak, J. 2004 P: 191).
Jika pemerintah serius agar pulau komodo menjadi bagian New 7 Wonders maka bukan hanya dukungan agar terpilih saja yang digencarkan namun juga harus mempersiapkan konsep dan metode pengelolaan yang baik (sustainable development), apalagi kawasan pulau komodo termasuk kawasan yang rentan karena komodo merupakan hewan langka yang hampir punah. Jangan sampai maksud untuk mengenalkan pariwisata dan meningkatkan perekonomian jutru menjadi boomerang karena mengganggu habitat makhluk yang dilindungi ini, yaitu komodo.
Perlu diperhatikan pula terkait pemerataan kesejahteraan penduduk karena proyek ini bukan proyek yang murah sehingga penyokong wisata ini pastilah orang-orang kaya dan berpendidikan. Dikhawatirkan uang yang berputar hanya dikalangan investor, pengelola, dan pemerintah daerah setempat saja sedang masyarakat lokal yang notabene secara ekonomi masih tertinggal hanya menikmati segelintir dari keutungan kegiatan wisata tersebut.
  Usaha agar pulau komodo terpilih dalam New 7 Wonders merupakan tujuan yang baik, namun usaha perlu perencanaan yang komprehensif karena kawasan yang diusung merupakan habitat hewan langka dan masyarakat setempat pun masih tertinggal baik secara ekonomi maupun secara pendidikan.(GBN)


Footnote :
1 Harian kompas edisi minggu 23 Oktober 2011
2 UU 23 tahun 1997

Link : Blog PPSDMS Reg V Bogor

Social Movement, Transformasi Kepedulian terhadap Permasalahan Sosial di Tanah Air



Berbicara tentang mahasiswa dan pemuda maka tak akan pernah kehabisan ide untuk membahasnya, bagaimana tidak? Merekalah tulang punggung negara, bahkan bangsa ini merdeka pun atas desakan golongan muda. Sehingga pantas jika ada yang mengatakan bahwa dalam setiap kebangkitan zaman pemudalah yang menjadi pilar-pilarnya.
Mendengar kata pemuda dan mahasiswa satu kata yang terbesit adalah pergerakan, sebagaimana peran pemuda dan mahasiswa yang merupakan agen perubahan, control sosial, dan cadangan SDM masa depan. Namun pergerakan mahasiswa dan pemuda saat ini telah mengalami pergeseran, bukan pergeseran tujuan akan tetapi lebih kepada cara atau metode yang dilakukan. Ini terjadi akibat kondisi masyarakat dan pemerintahan yang seiring berjalannya waktu mengalami perubahan, dunia perpolitkan yang semakin dinamis, serta kebebasan berekspresi yang tumbuh subur di era demokrasi ini.
Pada decade awal reformasi, pola pergerakan mahasiswa -bisa kita katakan pemuda pada umumnya- lebih kepada menjalankan peran control sosial, mereka menjalankan perannya dengan baik. Mengkritik kebijakan pemerintah, menuntut kesejahteraan rakyat dengan aksi turun ke jalan bahkan tahun 2008 seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)melahirkan Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat). Ketujuh gugatan itu mencakup nasionalisasi aset strategis bangsa, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan merata, penuntasan kasus BLBI dan korupsi, kedaulatan di sektor pangan, ekonomi dan energi, jaminan ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok, reformasi birokrasi dan pemberantasan mafia peradilan, serta penuntasan lingkungan Indonesia dan menuntut Lapindo Brantas. Ini merupakan hal yang positif, mengapa? Karena aksi-aksi atau pergerakan yang dilakukan tumbuh dari naluri kepedulian dan wujud keprihatinan yang terhadap permasalahan bangsa. Pemerintah pun menganggap mahasiswa sebagai kekuatan yang besar,sehingga control terhadap pemerintah pemerintah bisa berjalan dengan baik.
Aksi semacam ini masih menjadi alat pergerakan utama mungkin karena pengaruh peristiwa ’98 yang pada saat itu dengan turun ke jalan, mahasiswa bergabung dengan rakyat mampu menjatuhkan rezim Orde Baru yang telah lama bercokol di tahta kepemimpinan RI 1. Mungkin gerakan semacam itu masih menjadi frame pergerakan pemuda beberapa tahun pasca peristiwa ’98, namun kini aksi dengan turun ke jalan atau unjuk rasa kini seakan-akan telah kehilangan peminatnya. Jumlah demonstran semakin berkurang dari aksi ke aksi, entah sudah jenuh dengan model pergerakan seperti itu atau mahasiswa sudah lelah karena tidak ada langkah nyata yang dilakukan pemerintah atau bahkan sangat memprihatinkan jika naluri kepedulian itu yang mulai berkurang.
Namun kini mulai merebak model pergerakan sosial atau sering kita kenal social movement sebagai bentuk transformasi pergerakan dari turun ke jalan mengkritisi pemerintah menjadi kontribusi nyata langsung ke masyarakat. Banyak model gerakan seperti ini sekarang yang sudah me-nasional, seperti Indonesia Mengajar yang di gagas Anis Baswedan, Indonesia Berkebun oleh Ridwan Kamil, Indonesia Menanam serta banyak gerakan serupa yang mereka terjun langsung ke masyarakat. Atas dasar keprihatinan  dan dengan ide yang dimilikinya, mereka mencoba menuntaskan permasalahan rakyat. Bahkan Ridwan Kamil mengatakan dalam seminar ‘Kontribusi’ PPSDMS jika hanya mengandalkan negara saja maka tidak akan selesai-selesai persoalan yang dihadapi, sehingga  -yang merasa- pemudalah yang harus turun tangan karena manusia dilahirkan Indonesia pasti bukan tanpa tujuan, ada maksud tertentu mengapa kita dilahirkan di Indonesia, dan salah satu maksud itu yakni mengambil peran untuk menyelesaikan polemik dan persoalan yang dihadapi masyarakat di negeri tercinta ini.
Gerakan sosial ini tumbuh begitu pesat, semakin tahun semakin banyak orang yang mendukung gerakan ini. Faktor yang paling mempengaruhi yaitu adanya perkembangan teknologi yang semakin maju seperti facebook dan twitter. Melalui media inilah gerakan ini mampu menyentuh nurani yang terdalam  bahwa dengan kontribusi yang ‘kecil’ ternyata mampu memberikan manfaat langsung tanpa bantuan pemerintah. Contoh yang paling terkenal adalah kasus ‘Koin Untuk Prita’ dimana melalui media social network  gerakan ini mampu menjaring banyak pihak baik secara member dalam grup facebook atau pengumpulan langsung yang dilkukan di beberapa daerah. Social movement memang menjadi model gerakan di era baru disaat mahasiswa mulai berkurang minatnya dengan aksi turun ke jalan ternyata gerakan ini mampu tampil men-transformasikan kepedulian dalam tindakan nyata.