Jumat, 09 November 2012

Sebuah Cerita : Cinta Monyet...#2 (Tumbuh)


Waktu terus berlalu, tak terasa kini sudah beranjak kelas 5 SD. Aroma persaingan tetap ada antara aku dan Lia, dan sekarang selalu menguntit dibelakang kami Vita yang saat kelas 3 kemarin meraih ranking 2. Tak banyak yang berubah, kami masih berlomba-lomba dalam berprestasi. Namun entah kenapa, tidak tau kosakata darimana, muncul kata pacaran. Aku dan Lia sering “dipasang-pasangkan” hanya karena aku ranking 1 dan Lia ranking 2, kok bisa??bahkan pernah dipasangkan dengan Vita, apalagi ini?? Semenjak itu mulai tuh banyak teman – teman yang dipasang-pasangkan hanya karena kedekatan yang sebenarnya itu wajar buat anak – anak usia sekolah dasar. 

Mungkin hormon pertumbuhannya berkembang lebih cepat dan pengaruh televisi, anak usia kelas 5 sekolah dasar sudah mengerti pacaran. Bagaimana denganku?? Jujur aku sendiri tak begitu tahu apa maksud kata “pacar”, “pacaran”, “cinta” dll kata yang masih terdengar asing menurutku. Namun aku mulai merasakan ada perbedaan bergaul dengan teman laki-laki dan teman perempuan, kalau dulu kelas 1 sampai kelas 4 bermain bersama antara laki-laki dan perempuan biasa saja, tidak ada yang dirasa tabu, semuanya sama tidak memandang jenis kelamin. Tetapi menginjak kelas 5 SD ada perasaan aneh ketika bermain dengan anak perempuan, ada perasaan canggung, aneh, malu macam-macam deh rasanya. Mungkin salah satunya mulai menyadari ternyata kami berbeda jenis kelamin dan perilaku, yang laki-laki ingin kelihatan seperti jagoan yang perempuan ingin kelihatan cantik, dan aku menyadarinya seperti itu.

Saling megejek satu sama lain terus berlanjut hingga tingkat akhir sekolah dasar yaitu kelas 6 SD. Bicara tentang si A pacarnya si B lah, si X pacarnya si Y lah, bahkan sering kali di tulis di buku atau di meja si A love si B dan macam – macam tingkah polah anak-anak SD waktu itu. Termasuk aku juga tak luput dari godaan teman – teman sekelas terlebih lagi aku dan Lia memang sering bersaing dalam peringkat kelas, malah ada yang menjuluki kami “Raja da Ratu” aiihh muncul darimana pula kata – kata itu. Tak jarang tulisan “Dani pacarnya Lia”, “ Lia love Dani” dan semacamnya ada di meja, bangku, buku tulis, tembok kelas, setiap kami ada interaksi sedikit saja pasti kelas langsung ramai pada bersorak puas mengejek aku dan Lia. Tak tahu kenapa mereka sampai sebegitunya. Karena aku masih tak tahu apa-apa aku hanya megelak dan menegaskan aku tidak ada hubungan apa-apa seperti yang mereka ejek. 

Sepertinya ejekan teman – teman mempercepat laju hormon pertumbuhanku, semakin sering aku mengelak ejekan teman – teman dari penolakan – penolakan itu muncul rasa senang bila diganggu, senang bila “dipasang-pasangkan”, munculah perasaan malu dan berdebar-debar jika bertemu dengan Lia, dalam hati ku bertanya “Inikah yang namanya cinta?”, “inikah maksud dari kata yang selama ini teman-teman ejekan padaku?”. Namun makin  lama aku sudah terbiasa dan cuek terhadap ejekan itu walaupun sesekali ejekan kutanggapi.

Bagaimana dengan Lia? Sebenarnya aku kurang tahu bagaimana perasaannya saat itu, malukah?kesalkah?jengkelkah jika diejek seperti itu? Aku tak melihat ekspresi apa-apa jika ia diejek, atau mungkin dia menyembunyikan perubahan wajah, sikap, tutur kata saat “dipasangkan”. Akan tetapi pada hakikatnya perempuan itu lebih perasa bisa jadi yang dirasakan melebihi yang aku rasakan dan aku baru menyadarinya saat aku memasuki akhir kelas 1 SMP. 

Ujian Akhir Nasional untuk tingkat Sekolah Dasar sudah berakhir, teman – teman kelas heboh menanyakan satu sama lain ingin melanjutkan kemana. Ada yang ke SMP kecamatan, ada yang melanjutkan ke pondok pesantren, ada juga yang tidak melanjutkan sekolah. Bagaimana denganku?? Banyak yang mengharapkan aku melanjutkan sekolah di SMP kabupaten, SMP favorit yang ada di kotaku. Namun dengan pertimbangan tidak ada teman ditambah biaya yang mahal aku memilih sekolah yang ada di Kecamatan. Memang sebagian besar teman kelasku melanjutkan ke SMP Kecamatan selain dekat biayanya juga tidak terlalu mahal, masih terjangkau untuk keluarga petani dan guru. Bagaimana dengan Lia? Ia juga masuk sekolah di Kecamatan. Dalam hati aku ingin tahu kemana sainganku melanjutkan sekolah, namun jika aku tanya pasti suasana jadi ramai dan kami kembali menjadi bahan olokan anak-anak. Ada sebuah trik yang entah aku dapat dari mana, mungkin dari salah satu sinetron di televisi, 

“ Vit, kamu nglanjutin kemana?” tanyaku. “ke SMP Kecamatan Dan..” jawab vita

“Oh, sama siapa aja yang ngelanjutin kesana?” tanyaku lagi, sebenarnya ini pertanyaan basa basi. 

Yang aku ingin tahu Lia juga ngelanjutin ke sana juga apa tidak.

“banyak kok, ada Lia, Indah, Meli, Yanti dll” jawab vita lagi.
Tuh kan jika kita malu menanyakan pada seseorang secara langsung, tanyalah pada orang ketiga. Dari trik tadi aku bisa gali banyak hal. Termasuk kapan mau mendaftar, mau registrasi ulang, dan lain sebagainya.