Minggu, 02 September 2012

Mahasiswa dan Agent of Change


Mahasiswa, yah itu lah kata yang menjadi dambaan para pelajar yang lulus SMA. Kata yang terbentuk dari kata Maha – Siswa menunjukan bahwa mahasiswa menempati strata tertinggi dalam dunia pendidikan Indonesia. Masyarakat awam menganggap bahwa mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki intelektualitas yang mumpuni. Ya intelektualitas, proses masuk ke perguruan tinggi untuk mendapatkan label mahasiswa memang tidaklah gampang dan tidak semua remaja lulusan SMA diberi kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Tercatat warga Indonesia dengan umur antara 18-25 tahun hanya sekitar 2 % yang menjadi mahasiswa sehingga wajar label intelek melekat pada diri mahasiswa.
Sayangnya intelektualitas (IQ) yang mumpuni sering kali tidak diikuti oleh kecerdasan emosi yang mumpuni. Kecerdasan emosi atau emotional quation (EQ) inilah yang sebenarnya membentuk siapa mahasiswa itu dikalangan masyarakat. Bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya,bagaimana ia memanfaatkan peluang dan bagamana ia bisa menjalin hubungan baik dengan rekan atau network yang dimilikinya merupakan beberapa hal yang seyogyanya dimiliki mahasiswa. Sebuah penelitian di AS menyebutkan bahwa faktor intelektualitas bukan menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi pekerjaan, IQ yang salah satu indikatornya bisa dilihat melalui IP hanya menempati urutan ke – 17. Penelitian ini menempatkan jujur sebagai pertimbangan utama setelahnya baru disiplin, kerja keras, dll. Ini menunjukan bahwa Emotional Quation sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia saat ini bukan hanya semata-mata mempunyai nilai bagus dan IP tinggi.
Emotional Quation sangat dekat dengan kata karakter dan hati, kecerdasan emosi bisa terlihat dari bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita bersikap dan bertindak, bagaimana kita bersimpati dan berempati terhadap orang disekitar kita yang semua itu bisa dirangkum dalam satu kata yaitu KARAKTER. Sedangkan HATI memegang peran bagaimana mengendalikan dan memfungsikan perasaan dalam perilaku kita sehingga tidakan yang dilakukan bukan semata – mata hasil analisa akal melainkan unsur emosi yang membuat tindakan itu menjadi pantas atau tidak pantas. 
Terjun ke masyarakat langusung merupakan salah satu cara untuk merangsang kecerdasan emosi mahasiswa agar berkembang. Berinteraksi dengan masyarakat, mengenal lebih dalam dan memahami kondisi sosio-kultural yang terjadi di masyarakat  bisa melatih hati untuk lebih peka tehadap lingkungan sekitar. Tentu hal ini berperan dalam mengembangkan peran mahasiswa sebagai agen of the change, sebagai agen perubahan tentu mesti tahu apa yang harus dirubah dan permasalahan bangsa ini sebagian besar terdapat pada masyarakat bangsa itu sendiri, kemiskinan, kesehatan, ketahanan pangan pelaku dan korbannya sebagian besar adalah masyarakat. Masyarakat merupakan bagian penting dalam sebuah negara, tanpa adanya masyarakat negara tidak akan terbentuk dan masyarakat pula yang menjadi entitas terbesar dari sebuah negara. Oleh karenanya mahasiswa sebagai agent of change ketika menjalani fase pembelajaran di kampus tidak hanya memikirkan bagaimana saya ketika lulus?saya mau bekerja dimana? Atau setelah lulus saya mau kemana? Akan tetapi sudah mulai dipikirkan ketika lulus nanti mau terjun di sektor apa? Manfaat apa yang bisa saya berikan untuk masyarakat dengan ilmu saya? Frame yang dibentuk adalah frame berkontribusi.

Program Kuliah Kerja Profesi (KKP) IPB merupakan program sangat cocok untuk melatih dan merangsang mahasiswa untuk berkontribusi, tidak hanya sekedar melakukan kewajiban akademik namun melatih mahasiswa untuk menjadi problem solver (sesuai kapasitas keilmuannya) terhadap permasalahan yang dialami oleh masyarakat di desa. KKP IPB menjadi sarana mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dan memotret kondisi masyarakat terutama masyarakat pedesaan baik itu kendala, potensi, dan karakter warganya. Walaupun hanya satu desa yang disinggahi namun setidaknya inilah salah satu potret masyarakat desa Indonesia dimana mahasiswa pada nantinya akan bersentuhan dengan mereka apakah itu terkait pekerjaan maupun lingkungan tempat tinggal. Terjun ke masyarakat melalui KKP ini mampu memberi input bagi perencanaan mahasiswa dalam persiapan pasca kampusnya, minimal tahu karakter masyarakat seperti apa sehingga medan kontribusi pada pasca kampus nanti sudah bisa diperkirakan dan dipersiapakan strategi untuk menghadapinya.
Pada akhirnya program untuk berinteraksi dengan masyarakat bukan hanya KKP IPB saja, masih banyak program yang datangnya dari mahasiswa seperti bina desa, bakti sosial dll yang memang bertujuan untuk merangsang emotional question para mahasiswa. Masa menjadi mahasiswa sangatlah terbatas, terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga yang paling tepat adalah menjadikan masa sebagai mahasiswa sebagai sarana belajar, belajar tentang keilmuan masing-masing (akademik) dan belajar tentang kehidupan.  - Ibnu Subandi -