Kamis, 21 April 2011

Pesan Hasan Al Banna untuk Mahasiswa

Bismillahirrahmanirrrahim
"Katakanlah, 'Sesunguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras.' Katakanlah, 'Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.' Katakanlah.'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.'Katakanlah, 'Jika aku sesat maka sesunggunya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Saba': 46-50)

Wahai pemuda!
Saya panjatkan puji ke hadirat Allah, yang tiada Tuhan melainkan Dia. Semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Muhammad, Imam para pembaru dan penghulu para mujahid; keluarga; sahabat; dan para tabi'in.

Wahai pemuda!
Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dana amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. "Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (Al-Kahfi: 13) Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.

Ada di antara pemuda yang tumbuh dalam situasi bangsa yang dingin dan tenang, di mana kekuasaan pemerintah telah tertanam kuat dan kemakmuran telah dirasakan oleh warganya. Sehingga pemuda yang tumbuh dalam suasana ini aktifitasnya lebih banyak tertuju kepada dirinya sendiri daripada untuk umatnya. Dia pun kemudian cendrung main-main dan berhura-hura karena meresa tenang jiwanya dan lega hatinya. Ada juga pemuda tumbuh dalam suasana bangsa yang keras dan bergejolak, di mana bangsa itu sedang dikuasai oleh lawannya dan dalam semua urusan diperbudak oleh musuhnya. Bangsa ini berjuang semampunya untuk mengembalikan hak yang dirampas, tanah air yang terjajah, dan kebebasan, kemuliaan, sarta nilai-nilai agung yang hilang. Saat itulah kewajiban mendasar bagi pemuda yang tumbuh dalam situasi seperti ini adalah berbuat untuk bangsanya lebih banyak dari pada berbuat untuk dirinya sendiri. Jika ia lakukan hal itu, ia akan beruntung dengan mendapatkan kebaikan segera di medan kemenangan dan kebaikan -yang tertunda- berupa pahala dari Allah swt. Barangkali, merupakkan suatu keberuntungan bagi kita bahwa kita termasuk pemuda kelompok kedua (yang dibesarkan dalam situasi keras dan bergejolak). Oleh karena itu, kedua mata kita pun terbuka di hadapan sebuah umat yang terus berjihad dan berjuang untuk mendapatkan hak dan kebebasannya. Bersiap-siaplah wahai para tokoh!

Sungguh, alangkah dekatnya kemenangan bagi kaum mukminin dan alangkah besarnya keberuntungan bagi para aktifis yang tak henti berjuang.

Wahai pemuda!
Barangkali ancaman yang cukup berbahaya pada bangsa yang mau bangkit –dan kita sekarang di fajar kebangkitan- adalah munculnya beragam isme, banyaknya seruanseruan, warna-warninya manhaj, perbedaan dalam penetapan strategi dan sarana perjuangan, dan tidak sedikitnya orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin dan penguasa. Berawal dari sini, maka studi perbandingan terhadap isme-isme menjadi amat penting bagi siapa saja yang menginginkan perbaikan. Dari sini pula, maka kewajiban saya adalah menerangkan kepada kalian dengan ringkas dan jelas dakwah Islam pada abad keempat belas hijriyah.

(Pengen lanjut...??baca selengkapnya di Risalah Pergerakan)

Minggu, 17 April 2011

Potret 1# (Milad Partai Dakwah)


Stadion Gelora Bung Karno (St.GBK) dijejali  pasukan putih – putih dari berbagai penjuru kaya malaikat turun dari langit (emang malikat pakaiannya putih y??), gema takbir kerap terdengar dari insan  kalangan tua-muda, pasutri muda-pasutri senior yang sudah mengorbankan waktu liburnya dateng ke GBK atau emang sengaja pengin liburan di GBK?
Bermacam bendera dengan berbagai ukuran berkibar menunjukan eksistensi dan hegemoni pesta Ulang Tahun itu. Yup kali ini ‘Bung Karno’ mengadakan pesta atau bahasa halusnya syukuran akbar salah satu partai besar yang berulang tahun (bahasa sholihnya milad-red), gue ga’ mau sebut nama partainya apa cukup inisialnya aja yaitu “PKS”. Kepanjangannya apa?? Silahkan tafsirkan sendiri….
Yah waktu itu emang ramai sangat, sempat kepikiran kalau gue ga’ dateng sebenarnya ga’ masalah toh yang dateng juga udah banyak malahan ada yang ga’ kebagian tempat dan hanya ada 2 pilihan terpaksa harus duduk lesehan di pinggir lapangan atau sengaja berdiri membiarkan seluruh berat badan tertumpu di kaki yang mulai letih. Lalu gue inget cerita salah seorang sahabat, ketika mau pergi perang nih ada sahabat yang kurang mampu n’ ga’ punya apa buat perang, dia pergi menghadap Rosul terus minta biar dia bisa ikut perang. Namun sayang Rosul belum membolehkannya, tapi si sahabat ini ga nyerah gitu aja so dia menghadap Rosul lagi dengan rasa harap dan keinginan yang menggebu tulus dari relung hati yang terdalam. Akhirnya dia boleh ikut perang, nah terus dateng nih sahabat yang lain tanya sama beliau “Kau tidak punya bekal apa – apa untuk berperang, bahkan senjata dan pelindung pun kau tak ada..kenapa kau mau pergi berperang?” dengan simple dijawab gini “aku memang tak punya bekal apa – apa, aku juga tak punya senjata untuk berperang tapi apakah aku tak boleh menjadi titik di antara sekian banyak pasukan muslim? yang dengan semakin banyak titik dalam barisan kaum muslimin  akan mengguncang perasaan, menyiutkan nyali musuh bahwa pasukan yang siap menjemput syahid juga semakin banyak”. Inget kisah itu gue yakin walaupun saat itu gue cuma duduk-duduk n’ ga’ ngapa-ngapain tapi kini gue yakin hadir sebagai titik yang akan semakin menggentarkan musuh – musuh Allah.
 Yang paling gue rasain bener dan itu sempet buat gue merinding, baru pertama gue lihat dengan mata kepala sendiri ratusan ribu orang berbaris rapi. Ga’ kebayang kalau di serang orang sebanyak itu. Gue langsung inget gimana ya ketika zamannya Rosulullah? Setiap perang harus dihadapi dengan jumlah yang ga’ seimbang 300 : 1000, 1000: 3000 atau yang paling ekstrim saat perang mu’tah 3000 pasukan muslim melawan 200.000 pasukan Romawi. Mungkin kalau yang gue lihat di GBK ya kira – kira 2 tribun melawan hampir satu stadion GBK. Sangat dahsyat gan…Bener-bener ga’ kebayang satu orang harus melawan berapa puluh orang? Tapi Allah Yang Maha Kuat menunjukan kekuatanNYA, Allah Yang Maha Agung menunjukan KeagunganNYA dan kisahnya berakhir dengan happy ending. Mungkin sudah menjadi suatu Sunatullah bahwa orang yang mau menggerakan dakwah jumlahnya sedikit, hanya dengan keimanan yang kuat, tekad yang membaja, ikhtiar yang tiada henti serta munajat beriring doa atas izin Allah dakwah itu akan menggapai kemenangan yang dirindukan.
Bekerja untuk Bangsa, Bekerja untuk Negeri dan Bekerja untuk Ummat…..

Jumat, 15 April 2011

Eco Labelling, Sebuah Konsep Pelestarian Alam Berbasis Ekonomi


Bencana banjir yang akhir – akhir ini terjadi di sejumlah daerah di negeri kita tercinta seperti di Kudus, Gresik, Papua, dan Sumatra Utara membuat hati bertanya kapan bangsa ini tak ramai dengan bencana? Sudah Menjadi rahasia umum bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah cuaca yang tak menentu akibat Climate change. Climate change yang salah satu gejalanya ialah global warming (pemanasan global) memang sudah menjadai isu Internasional dimana semua Negara terkena dampaknya, badai salju di Amerika, mencairnya es di kutub utara dan antartika merupakan sepenggal kecil efek climte change. Beberapa fakta menyebutkan fenomena ini terjadi karena tereduksinya lapisan ozon (O3) akibat emisi gas yang semakin banyak sedang hutan sebagai paru – paru dunia semakin sedikit. Jika melihat lingkup Indonesia, emisi yang menjadi polusi tidaklah sebanyak Negara – Negara barat yang sangat mengandalkan Industri namun Indonesia juga menyumbang hilangnya hutan sebagai penetral polusi dan sebagai daerah resapan air.
Dunia pun mulai paham dan sadar akan gejala alam yang menjadi bencana global, dalam beberapa puluh tahun terakhir ada beberapa kebijakan dan perjanjian sebagai upaya menekan laju global warming antara lain Protocol Montreal yang merupakan perjanjian unutuk menekan depresi ozon yang berada di atmosfer dengan membatasi perdagangan Chloro Fluoro Carbon (CFC), gas yang dapat mereduksi ozon sehingga terjadi efek rumah kaca. Selain Protocol Montreal ada juga kebijakan debt for nature swaps yaitu lembaga pecinta lingkungan di Negara – Negara maju ‘menangani’ atau membayar sebagian hutang Negara berkembang dengan syarat Negara tersebut harus melakukan upaya perbaikan lingkungan. Lalu kebijakan yang baru diterapkan beberapa yahun lalu oleh Negara barat khususnya Eropa adalah penerapan ecolabel (Eco Labelling) untuk komoditas yang diperdagangkan secara internasional.
Secara umum, Eco Labelling menuntut bahwa setiap produk dagangan harus telah didasarkan pada kelestarian sumber daya dan ekosistem dari lingkungan hidup. Dimulai dari pengambilan bahan baku (misalnya kayu), pengangkutan bahan baku ke pabrik, proses dalam pabrik, pengangkutan produk pabrik ke konsumen, pemakaian produk dan pembuangan sampahnya (bekas pakai dari produk) secara keseluruhan tidak mencemari lingkungan(akrab lingkungan). Sertifikasi Eco-Labelling di bidang perkayuan adalah suatu cara untuk memberikan informasi kepada konsumen mengenai produk kayu yang dipasarkan kepadanya dalam bentuk suatu sertifikat atau Eco-Labell yang menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal atau dihasilkan dari suatu konsensi hutan yang dikelola secara lestari.1
Walaupun memang perlu diakui sertifikasi Eco Labelliing ini bukanlah hal yang murah, ini akan mengakibatkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang belum terlalu mapan akan tergilas. Sebab Negara di Eropa dan Amerika sudah memasukan sertifikat Eco Labelling syarat  komoditi, terutama kayu, masuk ke negaranya. Namun dampak negative ini masih relatif kecil jika dibandingkan benefit atau manfaat  yang dirasakan baik secara ekonomi maupun lingkungan.
Pada sisi ekonomi benefit ini dirasakan oleh UKM yang bersertifikat, khususnya yang memproduksi furniture kayu dan diekspor ke pasar Amerika dan Eropa. Dini Rahim, senior koordinator home furnishing Senada (konsultan yang didanai USAID), ia mengatakan kalau UKM Indonesia mengikuti prosedur dan tahapan dalam modul sustainable practises, maka produk furnitur buatan Indonesia akan semakin diterima pasar global. Apalagi, persaingan furnitur di pasar dunia makin ketat. “Kalau mengandalkan desain, mungkin desain dari Italia lebih bagus. Kalau mengandalkan harga murah, mungkin harga dari China lebih murah. Jadi, salah satu cara agar furnitur Indonesia mendapatkan hati di konsumen dunia adalah dengan adanya label dan sertifikasi produk,”2. Adanya Sertifikat Eco Label akan membentuk kepercayaan pada komoditi kayu  yang diekspor adalah komoditi yang ramah lingkungan. Hal tersebut dirasakan betul oleh PT Jawa Murni Lestari, UKM yang bergerak di bidang home furnishing. Selama krisis finansial yang mendera dunia belakangan ini, omzet perusahaan anjlok sampai 20%. Tetapi, karena perusahaan mengantongi sertifikasi, permintaan dari pasar luar negeri terus berdatangan. Walhasil, ketika perusahaan lain kolaps karena gonjang-ganjing ekonomi dunia, mereka masih bertahan. Bahkan, berhasil meraih laba bersih 1,13%.­3
Pada prespektif Lingkungan, kebijakan Eco label yang mengharuskan komoditi kayu yang diperdagangkan adalah kayu yang mulai dari proses pangambilan bahan baku sampai pemasaran produk dilakukan denagn ramah lingkungan. Bahkan ada beberapa Negara memastikan terlebih dahulu kayu tersebut bukanlah kayu hasil ilegalloging. Sehingga adanya eco label bisa menekan ilegalloging yang cukup merebak di berbagai daerah di tanah air.

1 www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/JAMBI/eco_labeling.html
2 Majalah Duit.co.id Senin, 30 November 2009
3 Majalah Duit.co.id Senin, 30 November 2009

Selasa, 12 April 2011

Kedudukan As Sunnah dalam Islam


As sunah merupakan penafsiran Alquran dalam penerapan ajaran islam secara faktual dan ideal. Seperti yang dinyatakan oleh aisyah r.a ketika ditanya oleh ayahnya tentang akhlak nabi “Akhlak beliau adalah Al Quran” sebagai penerapan ajaran islam maka Rasulullah ibarat Al Quran yang berjalan. Oleh karenanya siap yang ingin mengetahui ajaran islam lebih rinci dapat mempelajari Sunnah Nabawiyah yaitu: ucapan, perbuatan dan persetujuan nabi SAW.

Manhaj islam adalah manhaj yang komprehensif, seimbang, dan memudahkan. Komprehensif disini meliputi panjang rentang waktu kehidupan manusia sejak lahir sampai ia mati, lebar meliputi seluruh aspek kehidupan dan dalam mencakup “kedalaman” kehidupan seperti tubuh, akal dan ruh. Seimbang maksudnya ada di tengah-tengah seperti dinyatakan dalam QS Al Baqarah : 143 yaitu umat yan di tengah-tengah, maka ketika Nabi melihat sahabatnya condong ke arah “berlebihan” atau “ kekurangan” beliau segara megembalikan ke tengah (moderat). Memudahkan, islam dan sunnah nabi tidak ada yang memberatkan sesuai sabda Rasul “Sesungguhnya aku ini rahmat yang dihadiahkan (untuk seluruh manusia) dan firman Allah “Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” Al anbiya :107.

Kewajiban kaum muslim terhadap As sunnah
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Sunnah nabi adalah manhaj terinci bagi seorang muslim dan masyarakat muslim. Adalah kewajiban kaum muslim untuk memahami manhaj nabawi yang terinci dengan ciri khasnya yang komprehensif, saling melengkapi, seimbang dan penuh kemudahan seperti generasi muslim terbaik. Namun Rasul mengisyaratkan tentang apa yang akan menimpa ilmu kenabian serta warisan risalah akibat ulah kaum ekstrem, sesat dan bodoh. Kaum ekstrem telah menjauh dari jalan tengah,jalan lurus yang lapang, dan kemudahan yang sifat kewajiban syariat ini. Si kap Ghuluw (berlebih-lebihan) telah menjauhkan mereka. Kaum sesat melakukan manipulasi yang dimasukan ke dalam manhaj nabawi dengan bid’ah yang bertentangan dengan watak asli manhaj islam. Lalu penafsiran oarang jahl (bodoh) yang merusak hakikat agama islam, menyelewengkan konsepnya dan mengurangi integritasnya dengan menghilangkan berbagai hukum dan ajaran dari batang tubuhnya. Itu karena tidak adanya pijakan yang kuat dalam ilmu atau dalam upaya mencari kebenaran.

Beberapa prinsip dasar dalam berinteraksi dengan As sunnah An nabawiyah.
Hendaknya siapa saja yang hedak berinteraksi dengan As sunnah sebaiknya berpegang pada beberapa prinsip, pertama menelti dengan seksama tentang keshahihan hadits yang dimaksud sesuai denagn acuan ilmiah yang telahdietapkan oleh para pakarhaits yang dipercaya. Kedua meaami dengan benar nash-nash yang berasal dari nabi sesuai dengan pengertian bahasa dan dalam rangka konteks hadits tersebtserta sebab wurud oleh beliau, juga dalam kaitan dengan nash-nash Al Quran dan sunnah yang lain. Ketiga,memastikan bahwa nash tersebut tidak bertentangan dengan nash lainya yang lebih kuat kedudukannya baik yang berasal dari Al Quran atau hadits lain yang lebih banyak jumlahnya atau lebih shahih.

          As sunnah adalah sumber kedua dalam islam dalam bidang tasyri’dan dakwah sehingga agar As sunnah dapat memenuhi fungsinya harus terlebih dahulu kita meyakini bahwa hadits tersebut benar-benar beraal dari nabi SAW oleh karenanya ada ketentun dalam penentuan derajat hadits, hadit yang kita jadikan dasar bagi kesimpulan hukum atau dakwah adalah yang berpredikat shahih atau hasan. Menolak hadits shahih sama saja menerima hadits palsu, menerima hadits palsu merupakan perbuatan “memasukan sesuatu yang bukan dari agama ke dalam agama” sedang menolak hadits shahih berarti “mengeluarkan dari agama sesuatu yang merupakan bagian dari agama”. Keduanya adalah perbuatan tercela dn tak dapat diterima, baik berupa penerimaan sesuatu yang bathil atau penolakan sesuatu yang haqq. Namun ada yang menolak hadits shahih karena pemahaman yang keliru, ada sebagian orang yang menbaca hadits tergesa-gesa lalu mndapati makna tertentu khayalanya yang dijadikan sebagai bahan menafsirkan hadits tersebut. Dan manakala akalnya tidak menerima makna hadits tersebut  maka ia akan menolaknya. Padahal seandainya mau bersikap jujur dan adil serta merenung dan meneliti niscaya akan diketahui makna hadits itu tidak seperti yang ia pahami.

Ta'aruf Unik

      Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. 
 
         Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk di sebelah murobbi, sementara agak jauh di depannya sang akhwat ditemani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobbi berbisik pelan pada mad'unya yang malu-malu ini,

"Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum?"

"Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?"

Murobbinya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana antum! yang itu istri saya!" ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


       Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang calon akhwat yang diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah kena blacklist sama murobbinya karena selalu menolak memberi kriteria ketika ditanya.

" Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa akhwat yang antum inginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah?", tanya murobbi dengan nada pasrah.

"Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja", jawab sang ikhwan.

Sang Murobbi pun bengong dibuatnya, "Asal-asalan bagaimana maksud antum?
Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria."

"Maksud ane, asal sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur'an, asal pintar, dan asal-asalan yang lainnya."

"Pantes aja antum nggak nikah-nikah!", jawab Murobbi dengan penuh keheranan

sumber: mujahidsamurai.multiply.com