Senin, 11 Maret 2013

Sebuah Cerita : CInta Monyet...#3 (L.A.P)


      Akhirnya pengumuman penerimaan siswa baru disampaikan juga termasuk kelas yang di tempati. Walaupun waktu SD aku selalu peringkat atas namun nilai UAN ku termasuk yang biasa – biasa saja dibandingkan dengan SD yang lain, bahkan dengan teman SD senidiri saja aku di lampaui, tapi tak masalah buatku. Meskipun begitu aku masih bisa masuk kelas unggulan di sekolah itu, yah sekolahku itu menerapkan sistem unggulan dan non unggulan. Tidak ada perbedaan yang signifikan hanya saja yang menempati kelas unggulan itu yang mempunyai peringkat tertinggi meskipun belum tentu yang nilainya tinggi saat masuk nilainya tinggi pula saat di ujian atau ulangan harian. Aku tahu betul itu, karena aku sendiri yang mengalami hal itu.

       Aku sempat senang karena di kelas itu aku tidak sendiri dari SD ku, ada beberapa teman yang masuk di kelas yang sama, tapi ternyata lia juga masuk di kelas yang sama. Aku sempat khawatir gossip dan ejekan saat SD kembali menyebar, namun aku berfikir ‘ah, ini kan kebanyakan teman baru dan teman SD ku cuma beberapa aja..ga bakalan ada yang taulah’. Sebenarnya agak kurang enak ada di kelas unggulan, kami tak pernah menang kalau bermain sepakbola padahal sepak bola itu permainan paling bergengsi di sekolahku. Tapi kalau urusan lomba yang lain, kelas kami boleh untuk dipertimbangkan.

     Aku senang di kelas ini, kami punya wali kelas yang sangat baik namanya Ibu Laily. Meskipun sudah tua tapi beliau sangat memperhatikan kami, kalau kami ada salah sedikit pasti langsung dinasehati. Cara menasehatinya  juga unik, beliau seolah – olah memperlakukan kami seperti anak TK, kadang lucu, kadang juga bikin sakit hati, tapi  itulah beliau semua anak di kelas menghormati beliau. Setelah beberapa lama aku cukup nyaman di kelas dan aku termasuk anak yang jarang ngobrol, main dengan teman perempuan. Saat cowok-cowok mulai mendekati cewek – cewek aku hanya duduk melihat aksi cowok – cowok menarik perhatian si cewek, tiba – tiba ada seorang cewek duduk di sebelahku

“Dan, kamu itu L.A.P ya?” Tanya temen cewek di sebelahku, namanya Tika.
“L.A.P? apaan tuh?”
“ Laki-laki Anti Perempuan…”
“ Eh?? Kok kamu nanya gitu?”
“ Iya soalnya kamu kaya jarang ngedeketin perempuan.. hahaha”

     Dalam hati aku merasa ‘panas’, ga mau dikatain L.A.P apalagi cewek yang ngomong. Akhirnya aku mulai ikut nimbrung dengan obrolan – obrolan cewek – cewek, ada beberapa cewek yang jadi primadona tapi aku ga tertarik buat ngedekitin dia. Ada seorang cewek  yang aku simpatik dengan dia, wajahnya ga cantik emang, manis juga ga terlalu, kulitnya juga ga putih, kalau orang jawa bilang kulitnya ‘Kuning Langsat’. Tetapi dia itu kalau orang jawa bilang ‘ayu’ – bukan nama orang lho - , agak susah mendeskripsikan ‘ayu’ seperti itu apa, hanya ‘ayu’ itu terasa enak jika dipandang ditambah dengan perilaku yang sopan. Cewek yang kukagumi itu namanya Ana.

     Suatu ketika SMPku pulang lebih awal karena guru – guru ada rapat mendesak, aku dan beberapa teman SDku langsung berencana mengunjungi SD ku dulu. Tak disangka ternyata teman – teman cewek semasa SD juga datang, termasuk Lia. Setelah bersalaman dengan guru – guru kami langsung menuju kantin, ngobrol – ngobrol dengan ibu kantin yang sering jadi langganan kami dulu dan tak lupa beli “jajanan”.  Saat jajan itulah ada teman yang menggodaku dengan Lia lagi, yang lain pun langsung ketawa. Karena di kelas ada orang yang kukagumi jadi aku santai – santai saja,

“Ah itu kan masa lalu, sekarang udah ada cewek yang aku suka” kataku,

     Pada waktu itu aku melihat Lia, dia terlihat ga ada ekspresinya. Padahal aku mengatakan itu hanya ingin tahu Lia cemburu atau tidak, meskipun ada cewek yang aku kagumi aku masih belum bisa melupakan Lia.