Minggu, 16 Oktober 2011

Kepemimpinan Profetik


Berkembangnya teori-teori kepemimpinan menimbulkan banyak pertanyaaan, salah satunya manakah diantara teori tersebut  yang paling relevan untuk diterapkan di era modern? Ada tiga model kepemimpinan yang berkembang di dunia:
    Pertama Kepemimpinan Kualitas, paham ini mengatakan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin cukuplah dia mempunyai karakter sebagai seorang pemimpin. Baik karakter yang melekat sejak lahir maupaun karakter yang dibentuk dengan pembinaan-pembinaan. Misal: bertanggung jawab, jujur, adil, berani, dll. Kedua Kepemimpinan Situasional, kepemimpinan model ini bukan hanya mengandalkan karakter kepemimpinan saja tetapi juga berdasarkan kompetensi yang memadai serta didukung dengan adanya momentum yang tepat untuk menjadi pemimpin. Ketiga Kepemimpinan Fungsional, ini berbeda dengan model sebelumnya. Pemimpin yang mempunyai Visi Misi yang terukur dan terarah, sudah ada mekanisme pembagian tugas, dan merupakan sarana untuk mengembangkan diri.
  Namun tiga model kepemimpinan yang muncul dengan pemahaman kebarat-baratan belumlah menjadi alternative solusi untuk beberapa permasalahan sosial. Oleh karena itu kini mulai berkembang pula model kepemimpinan gaya baru, muncul sebagai harapan baru untuk mengatasi masalah yang ada yakni Kepemimpinan Profetik.
Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan manusia hanya kepada Allah semata dengan nilai-nilai atau prinsip ke-Ilahi-an. Kepemimpinan profetik membawa misi yang berbeda dari jenis kepemimpinan apapun yang ada,membawa misi kemajuan moral dan spiritual manusia, menanamkan motif-motif kehidupan yang lebih tinggi dan agung, yaitu berupa kualitas kebaikan, keindahan, keadilan, kedermawanan, kehalusan, dan sifat-sifat agung lainnya. membawa misi kemajuan moral dan spiritual manusia, menanamkan motif-motif kehidupan yang lebih tinggi dan agung, yaitu berupa kualitas kebaikan, keindahan, keadilan, kedermawanan, kehalusan, dan sifat-sifat agung lainnya. Yang kemudian akan menentukan peradaban besar dunia.
Kepemimpinan profetik sebagai konsep baru dalam membangun tatanan sistem organisasi memiliki beberapa kekhasan yang merujuk pada ayat-ayat di dalam  Al Qur’an.
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al Baqarah : 129)
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 151)
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imran: 164)
Berdasarkan ayat di atas, dapat dirumuskan kekahasan dari kepemimpinan profetik. Pertama, Membacakan tanda-tanda. Secara istilah tanda merupakan sesuatu yang menunjukan sesuatu yang lain. Dalam konteksi ini tanda berasal dari Allah baik secara kauliyah yaitu Al Qur’an maupun alam dan hukum yang mengaturnya atau sering disebut ayat Kauniyah. Pemimpin profetik harus menyampaikan konsepsi-konsepsi yang terdapat dalam Al Qur’an semata-mata untuk menyadarkan manusia menghamba hanya kepada Allah saja. Selain itu juga harus mampu membaca alam dan seisinya sebagai manifestasi sumber daya yang sudah Allah siapkan untuk kebutuhan manusia.
 Kedua, Menyatukan dan menyucikan jiwa, mampu mengakomodasi keragaman ideologi, memimpin dengan keteladanan dan keterbukaan. Penyucian jiwa (tazkiyah) yang efektif terlihat hasilnya pada perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan Allah, sesama manusia dan alam, serta pengendalian anggota badan seperti mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki. Tazkiyah mentransformasikan adab dan perilaku sosial. Berbagai macam sarana untuk mentazkiyah pengikut dan masyarakat: spiritualitas dengan ibadah; pemikiran dengan ilmu; ekonomi dengan kerja; moralitas’akhlak dengan perilaku luhur; masyarakat dengan kerjasama; dan materi dengan pembangunan.
Ketiga, Mengajarkan pengetahuan, menyampaikan dengan hikmah secara arif dan bijak. Pemimpin profetik mengajarkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia (way of life). Sehingga dengan pemahaman yang Qur’ani mampu mendorong terwujudnya pribadi arif dan santun karena ilmu dan spiritual.
Keempat, Inspirator yang melahirkan peradaban baru, membangun serta membentuk para pengikut dan masyarakatnya menjadi manusia baru untuk lahirnya tatanan baru dengan visi pengembangan pendidikan islam yang jelas sehingga dapat dijadikan sebagai model bagi pengembangan lembaga pendidikan lainnya.  Membangun peradaban baru yang membawa berbagai bentuk peribadatan yang mengantar jiwa manusia ke level yang tinggi dan mendekatkannya dengan sang Pencipta.
Dengan misi yang mendekatkan kepada Allah, pemimpin profetik haruslah memiliki kesehatan spiritual yang baik sehingga bisa menjadi sumber kekuatan atau pengaruh yang kuat. Kedekatannya dengan sang Khalik akan membimbingnya menuju perencanaan yang jelas serta menciptakan dan mendorong perubahan karena ia mampu “mengakses” pertolongan-Nya. Ketenangannya dalam menyelesaikan masalah, akhlak atau karakter yang Qur’ani karena selalu terjaga ingatannya kepada Allah, kecerdasan yang terbentuk dengan menganalisis dan mengambil hikmah atas kepemimpinan Rasulullah mengantarkan ia untuk membentuk tatanan masyarakat yang sejahtera dan menjunjung prinsip ke-ilahi-an.

Rabu, 29 Juni 2011

Mozaik

Ketika kembali mendengar flash back mozaik sejarah bangsa yangg tercecer serta melihat manusia era reformasi (walaupun sebagian adalah produk OrBa) ternyata sungguh mengiris hati, membuat goresan luka pada sebuah harapan...

Namun aku yakin akan ada sekelompok pemuda yang siap menorehkan sejarah bagi bangsa ini, dan salah satu bibit kelompok itu sedang tumbuh di sebuah asrama yang belum seutuhnya jadi ini...

Boleh saja kau mengatakan Indonesia salah satu negeri terkorup di dunia,
Kau juga boleh mengatakan negeri dengan pemerintahan yangg bobrok dan sekian banyak rakyat yang miskin..
Tapi aku akan mengatakan bahwa negeri ini adalah negeri yang akan meluruskan bengkoknya peradaban...
Selama harapan masih menyala di dalam hati para pemudanya, aku optimis hal itu akn terwujud!!

#inspired by anis mata n' renungan sharing @PPSDMS Reg 5 Bogor Ang V...

Senin, 09 Mei 2011

Ayam dan Pemimpin


Seekor induk ayam tampak sibuk dengan kelahiran tiga ekor anaknya yang baru saja menetas. Seperti komandan barisan, ia memimpin ketiga anaknya mencari makan di sekitar kandang. Kemana ia pergi dan bertingkah, seperti itu pula anak-anaknya mengikuti.

Suatu kali, induk ayam ini menginginkan hal lain bagi anak-anaknya. Ia ingin ketiga anaknya kelak menjadi ayam istimewa, bukan ayam kebanyakan. Ia ingin anaknya bisa belajar terbang seperti burung, berlari kencang seperti kuda, dan mahir berenang seperti ikan.

Sang induk ayam pun mengajak anak-anaknya mengunjungi burung bangau. “Hei bangau sahabatku! Bisakah kau ajari salah satu anakku bagaimana terbang?”

Walau agak keheranan, sang bangau menuruti permintaan induk ayam untuk mengajari seekor anak ayam terbang. Sang bangau mengajak anak ayam itu menaiki sebuah bukit. Dan setelah mengajari bagaimana mengepakkan sayap, sang bangau ‘mendorong’ sang anak ayam untuk lompat dari atas bukit. Ia berharap, sang anak ayam bisa terbang, sebagaimana ia diajari induknya ketika masih kecil.

Ternyata, bukan terbang yang bisa dilakukan sang anak ayam. Ia terjatuh dari atas bukit dan membentur sebuah batu cadas di dasarnya. Anak ayam itu pun mati.

Tanpa peduli dengan kematian itu, kini sang induk ayam mengajak dua anaknya mengunjungi kuda. “Hei kuda sahabatku, maukah kau mengajari salah satu anakku bagaimana berlari kencang?” ucap sang induk ayam sedikit agak memaksa.

Walau agak keheranan, sang kuda pun mengajak salah satu anak ayam ke tanah lapang. Setelah mengajari bagaimana menggerakkan kaki agar lebih cepat berlari, sang kuda mengikatkan sebuah tali yang menghubungkan antara ia dengan tubuh anak ayam. Dan, ia pun ‘memaksa’ anak ayam itu berlari kencang. Cara itulah yang ia dapatkan ketika ia diajari induknya ketika masih kecil.

Ternyata, bukan kecepatan berlari yang didapat si anak ayam malang itu. Justru, ia terseret dan tubuhnya tergesek bebatuan di sekitar tanah yang dilalui kuda. Sang anak ayam itu pun mati.

Kini, tinggal satu peluang yang dimiliki induk ayam. Ia dan anaknya yang tinggal satu pun pergi meninggalkan kuda untuk mengunjungi ikan. Sang induk ayam berharap, anaknya yang satu ini bisa belajar berenang seperti ikan.

“Hei ikan sahabatku, maukah kau mengajari anakku berenang?” teriak sang induk ayam ke ikan sahabatnya di tepian sebuah sungai.

Walau agak keheranan, sang ikan pun terpaksa mengajak anak ayam itu belajar berenang. Setelah mengajari bagaimana menggerakkan tubuh ketika dalam air, sang ikan ‘memaksa’ anak ayam menceburkan diri ke air sungai. Cara itulah yang pernah diajarkan kepada sang ikan ketika ia masih kecil.

Ternyata, bukan kemahiran berenang yang didapatkan anak ayam, justru, ia tak bisa nafas karena tersedak air yang terus masuk ke saluran nafas kecilnya. Anak ayam itu pun mati.

Kini, tinggal si induk ayam melamun dalam kesendirian. Ia masih terpaku dalam kebimbangan: anak-anaknya yang tidak bermutu, atau ia yang salah memperlakukan anak-anaknya.
**
Tidak banyak pemimpin yang mampu menimbang dengan adil antara keinginan dan obsesinya yang begitu tinggi dengan kemampuan yang dimiliki orang-orang yang dipimpinnya.

Alih-alih ingin meraih hal yang istimewa dari yang ia pimpin, justru orang-orang yang mengikutinya ‘berguguran’ tergilas obsesi para pemimpinnya. 

ini dicolek dari sini

Minggu, 01 Mei 2011

Dari Gerakan ke Negara Sebuah rekonstruksi Negara Madinah yang dibangun dari bahan dasar sebuah gerakan

Add caption


Rencana itu terlalu halus untuk dideteksi secara dini oleh para pemimpin musyrik Quraisy. Tiba-tiba saja Makkah terasa lengang dan sunyi. Ada banyak wajah yang secara perlahan-lahan menghilang dari lingkungan pergaulan. tapi tidak ada berita. Tidak ada yang secara pasti mengetahui apa yang sedang terjadi dalam komunitas Muslim di bawah pimpinan Rasulullah saw ini memang bukan rencana yang bisa dirahasiakan dalam waktu lama. Orang-orang musyrik Makkah akhirnya memang mengetahui bahwa kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah. Tapi itu setelah proses hijrah hampir selesai.
Maka gemparlah penduduk Makkah. Tapi sebuah episode baru dalam sejarah telah dimulai: sebuah gerakan telah berkembang menjadi sebuah negara, dan sebuah negara telah bergerak menuju peradabannya; sebuah agama telah menemukan "orang-orangnya", dan sekarang mereka bergerak mencari "tanah", setelah itu mereka akan menancapkan "bangunan peradaban" mereka. Tanah, dalam agama ini, adalah persoalan kedua. Sebab yang berpijak di atas tanah adalah manusia, maka di sanalah Islam pertama kali menyemaikan dirinya; dalam ruang pikiran, ruang jiwa dan ruang gerak manusia. Tanah hanya akan menjadi penting, ketika komunitas "manusia baru" telah terbentuk dan mereka mulai membutuhkan wilayah teritorial untuk bergerak secara kolektif, legal dan diakui sebagai sebuah entitas politik.
Karena tanah hanya merupakan persoalan kedua, maka tidaklah heran bila pilihan daerah tempat hirjah diperluas oleh Rasulullah Salallaahu 'alaihi wa salam. Dua kali sebelumnya kaum Muslimin dalam jumlah yang lebih kecil berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), baru kemudian berhijrah keseluruhan ke Madinah. Tapi ketika kaum Muslimin sudah berhijrah keseluruhan ke Madinah, mereka yang sebelumnya sudah berhijrah ke Habasyah tidak serta-merta dipanggil oleh Rasulullah Saw menyusul saudara-saudara mereka di Madinah. Mereka baru menyusul ke Madinah lima atau enam tahun kemudian.
Ketika mereka tiba di Madinah, di bawah pimpinan Ja'far bin Abi Thalib, kaum Muslimin baru saja memenangkan perang Khaibar, sebuah peperangan yang sebenarnya mirip dengan sebuah pengusiran, menyusul pengkhianatan mereka dalam perang Khandak. Maka Rasulullah saw bersabda, "Aku tidak tahu dengan apa aku digembirakan oleh Allah; apakah dengan kemenangan dalam perang Khaibar atau dengan kedatangan Ja'far?"

Dari Gerakan ke Negara
Hijrah, dalam sejarah da'wah Rasulullah Saw, adalah sebuah metamorfosis dari "gerakan" menjadi "negara". Tiga belas tahun sebelumnya, Rasulullah Saw melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis; di mana Islam menjadi jalan hidup individu, di mana Islam "memanusia", dan manusia kemudian "memasyarakat". Sekarang, melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah gerakan itu "menegara", dan Madinah adalah wilayahnya.
Kalau inividu membutuhkan aqidah, maka negara membutuhkan perangkat sistem. begitulah setelah komunitas Muslim menegara, dan mereka memilih Madinah sebagai wilayahnya, Allah Swt menurunkan perangkat sistem yang mereka butuhkan; maka turunlah ayat-ayat hukum dan berbagai kode etik sosial, ekonomi, politik dan keamanan lainnya. Lengkaplah sudah susunan kandungan sebuah begara: manusia, tanah dan sistem.
Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah Saw, sebenarnya relatif mirip dengan semua yang mungkin dilakukan para pemimpin politik yang baru mendirikan negara. Pertama, membangun infrastruktur negera dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antara dua komunitas darah yang berbeda tapi menyatu sebagai komunitas agama, antara sebagian komunitas "Quraisy" dan "Yatsrib" menjadi komunitas "Muhajirin" dan "Anshar". Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui Piagam Madinah. Keempat, merancang sistem pertahanan negara melalui konsep Jihad fi Sabilillah.
Lima tahun pertama setelah hijrah dipenuhi oleh kerja keras Rasulullah Saw beserta para sahabat beliau untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup negara Madinah. Dalam kurun waktu itu, Rasulullah Saw telah melakukan lebih dari 40 kali peperangan dalam berbagai skala. Yang terbesar dari semua peperangan itu adalah Perang Khandak, di mana kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Setelah itu tidak ada lagi yang terjadi di sekitar Madinah, karena semua peperangan sudah bersifat ekspansif. Negara Madinah membuktikan kekuatan dan kemandiriannya, eksistensinya dan kelangsungannya. Di sini kaum Muslimin telah membuktikan kekuatannya, setelah sebelumnya kaum Muslimin membuktikan kebenarannya.
Jadi inilah yang dilakukan Rasulullah Saw pada tahapan ini; menegakkan negara. Sebagai sebuah bangunan, negara membutuhkan dua bahan dasar manusia dan sistem. Manusialah yang akan mengisi supra struktur, sedang sistem adalah perangkat lunak, sesuatu dengan apa negara bekerja. Dan Islam adalah sistem itu, maka ia given. Tapi manusia adalah suatu yang dikelola, dibelajarkan, sedemikian rupa sampai sistem terbangun dalam dirinya sebelum kemudian mengoperasikan negara dengan sistem tersebut. Dan untuk itulah Rasulullah Saw memilih manusia-manusia terbaik yang akan mengoperasikan negara itu.
Selain kedua bahan dasar negara itu, juga perlu ada bahan pendukung lainnya. Pertama, tanah. Tidak ada negara tanpa tanah. Tapi dalam Islam ia merupakan infrastruktur pendukung yang bersifat sekunder, sebab tanah merupakan benda netral, yang hanya akan mempunyai makna ketika ia dihuni manusia dengan cara hidup tertentu. Selain berfungsi sebagai ruang hidup, tanah juga merupakan tempat Allah menitip sebagian dari kekayaan-Nya yang menjadi sumber daya kehidupan manusia. Kedua, jaringan sosial. Manusia sebagai individu hanya akan mempunyai efektivitas ketika ia terhubung dengan individu lainnya secara fungsional dalam suatu arah yang sama.
Itulah perangkat utama yang diperlukan untuk menegakkan negara; sistem, manusia, tanah dan jaringan sosial. Apabila kedalam unsur-unsur utama itu kita masukkan unsur ilmu pengetahuan dan unsur kepemimpinan, maka keempat unsur utama tersebut akan bersinergi dan tumbuh secara lebih cepat. Walaupun secara implisit sebenarnya unsur ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam sistem dan unsur kepemimpinan sudah masuk kedalam unsur manusia.
Dan itulah semua yang dilakukan Rasulullah Saw selama tiga belas tahun berda'wah dan membina sahabat-sahabatnya di Makkah; menyiapkan semua perangkat yang diperlukan dalam mendirikan sebuah negara yang kuat. Hasil da'wah dan pembinaan itulah yang kemudian tumpah-ruah di Madinah dan mengkristalisasi secara sangat cepat.
Begitulah transformasi itu terjadi; ketika gerakkan da'wah menemui kematangannya, ia menjelma jadi negara; ketika semua persyaratan dari sebuah negara kuat telah terpenuhi, maka negara itu tegak di atas bumi, tidak peduli di belahan bumi mana ia tegak. Proses tranformasi ini memang terjadi sangat cepat dan dalam skala yang sangat besar. Tapi proses ini sekaligus mengajari kita dua hakikat besar; pertama, tentang hakikat dan tujuan da'wah serta strategi perubahan sosial, kedua, tentang hakikat negara dan fungsinya.

Perubahan Sosial
Tujuan da'wah adalah mengejawantahkan kehendak-kehendak Allah Subhaanahu wa ta'ala yang kemudian kita sebut agama, atau syari'ah dalam kehidupan manusia. Syari'ah itu sesungguhnya merupakan sistem kehidupan yang integral, sempurna dan universal. Karena manusia yang akan melaksanakan dan mengoperasikan sistem tersebut, maka manusia harus disiapkan untuk peran itu. Secara struktural, unit terkecil yang ada dalam masyarakat manusia adalah individu. Itulah sebabnya, perubahan sosial harus dimulai dari sana; membangun ulang susunan kepribadian individu, mulai dari cara berpikir, mentalitas dan perilakunya. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu salam lain dalam suatu sistem jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, sistem distribusi sosial-ekonomi-politik yang juga baru.
Begitulah Rasulullah Saw memulai pekerjaannya. Beliau melakukan penetrasi kedalam masyarakat Quraisy dan merekrut orang-orang terbaik diantara mereka. Menjelang hijrah ke Madinah, beliau juga merekrut orang-orang terbaik dari penduduk Yatsrib. Maka terbentuklah sebuah komunitas baru, dimana Islam menjadi basis identitas mereka, aqidah menjadi dasar ikatan kebersamaan mereka, ukhuwah menjadi sistem jariangan mereka dan keadilan menjadi prinsip sistem distribusi sosial-ekonomi-politik mereka. Tapi perubahan itu bermula dari sana; dalam diri individu, dalam pikiran, jiwa dan raganya.
Model perubahan sosial seperti itu mempunyai landasan pada sifat natural manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Perubahan mendasar akan terjadi dalam diri individu jika ada perubahan mendasar pada pola pikirnya. Karena pikiran adalah akar perilaku. Masyarakat juga begitu. Ia akan berubah secara mendasar jika individu-individu dalam masyarakat itu berubah dalam jumlah yang relatif memadai. Tapi model perubahan ini selalu gradual dan bertahap, prosesnya lebih cenderung evalusioner, tapi dampaknya selalu bersifat revolusioner. Inilah makna firman Allah Swt, "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah diri-diri mereka sendiri." (ar-Ra'd: 11)

Fungsi Negara
Dalam konsep politik Islam, syariat atau kemudian kita sebut sistem atau hukum, adalah sesuatu yang sudah ada, given. Negara adalah institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem tersebut. Inilah perbedaan mendasar dengan negara sekuler di mana sistem atau hukum mereka adalah produk kesepakatan bersama, karena ia sebelumnya dianggap tidak ada.
Sebagai institusi, bentuk negara selalu berubah mengikuti perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat manusia. Dari bentuk negara kerajaan, parlementer hingga presidensial. Skala negara juga berubah mengikuti perubahan struktur kekuatan antar berbagai negara dari imperium besar, ke negara bangsa dan, barangkali seperti yang sekarang jadi mimpi pemerintahan George Bush Senior di Amerika, adalah negara dunia, atau global state. Struktur etnis dan agama dalam sebuah negara juga bisa tunggal dan majemuk.
Oleh karena ini semua merupakan variabel yang terus berubah, dinamis dan tidak statis, maka Islam tidak membuat batasan tertentu tentang negara. Bentuk boleh berubah, tapi fungsinya tetap sama; institusi yang mewadahi penerapan syari'ah Allah Swt. Itulah sebabnya bentuk negara dan pemerintahan dalam sejarah Islam telah mengalami berbagai perubahan; dari sistem khilafah, ke kerajaan dan sekarang berbentuk negara bangsa dengan sistem yang beragam dari monarki, presidensial dan parlementer. Walaupun tentu saja ada bentuk yang lebih efektif menjalankan peran dan fungsi tersebut, yaitu sistem khilafah yang sebenarnya lebih mirip dengan konsep global state. Tapi efektivitasnya tidaklah ditentukan semata oleh bentuk dan sistem pemerintahannya, tapi terutama ditentukan oleh suprastrukturnya, yaitu manusia.
Namun demikian, kita akan melakukan kesalahan besar kalau kita menyederhanakan makna negara Islam dengan membatasinya hanya pada pelaksanaan hukum, pidana dan perdata, serta etika sosial politik lainnya. Persepsi ini yang membuat gambaran negara Islam lebih berciri moral ketimbang ciri lainnya. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa syari'ah Allah itu bertujuan memberikan kebahagiaan kepada manusia secara sempurna; tujuan hidup yang jelas, yaitu ibadah untuk mendapat ridha Allah Swt, rasa aman dan kesejahteraan hidup.
Hukum-hukum Islam dalam bidang pidana dan perdata sebenarnya merupakan sub-sistem. Tapi dampak penerapan syari'ah tersebut pada penciptaan keamanan dan kesejahteraan hanya dapat muncul di bawah sebuah pemerintahan yang kuat. Dan itu bertumpu pada manusia. Hanya "orang kuat yang baik" yang bisa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan, bukan orang baik. Karena hanya orang kuat yang baik yang dapat menerapkan sistem Allah secara sempurna. Dan inilah makna hadits Rasulullah Saw, "Laki-laki Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari laki-laki mukmin yang lemah."
Alangkah dalamnya penghayatan Umar bin Kaththab tentang masalah ini ketika berdoa, "Ya Allah lindungilah kami dari orang-orang bertakwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh." Inilah sesungguhnya misi gerakan Islam: melahirkan orang-orang baik yang kuat atau orang-orang kuat yang baik.
(M. Anis Matta, LC)

Kamis, 21 April 2011

Pesan Hasan Al Banna untuk Mahasiswa

Bismillahirrahmanirrrahim
"Katakanlah, 'Sesunguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras.' Katakanlah, 'Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.' Katakanlah.'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.'Katakanlah, 'Jika aku sesat maka sesunggunya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Saba': 46-50)

Wahai pemuda!
Saya panjatkan puji ke hadirat Allah, yang tiada Tuhan melainkan Dia. Semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Muhammad, Imam para pembaru dan penghulu para mujahid; keluarga; sahabat; dan para tabi'in.

Wahai pemuda!
Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dana amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. "Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (Al-Kahfi: 13) Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.

Ada di antara pemuda yang tumbuh dalam situasi bangsa yang dingin dan tenang, di mana kekuasaan pemerintah telah tertanam kuat dan kemakmuran telah dirasakan oleh warganya. Sehingga pemuda yang tumbuh dalam suasana ini aktifitasnya lebih banyak tertuju kepada dirinya sendiri daripada untuk umatnya. Dia pun kemudian cendrung main-main dan berhura-hura karena meresa tenang jiwanya dan lega hatinya. Ada juga pemuda tumbuh dalam suasana bangsa yang keras dan bergejolak, di mana bangsa itu sedang dikuasai oleh lawannya dan dalam semua urusan diperbudak oleh musuhnya. Bangsa ini berjuang semampunya untuk mengembalikan hak yang dirampas, tanah air yang terjajah, dan kebebasan, kemuliaan, sarta nilai-nilai agung yang hilang. Saat itulah kewajiban mendasar bagi pemuda yang tumbuh dalam situasi seperti ini adalah berbuat untuk bangsanya lebih banyak dari pada berbuat untuk dirinya sendiri. Jika ia lakukan hal itu, ia akan beruntung dengan mendapatkan kebaikan segera di medan kemenangan dan kebaikan -yang tertunda- berupa pahala dari Allah swt. Barangkali, merupakkan suatu keberuntungan bagi kita bahwa kita termasuk pemuda kelompok kedua (yang dibesarkan dalam situasi keras dan bergejolak). Oleh karena itu, kedua mata kita pun terbuka di hadapan sebuah umat yang terus berjihad dan berjuang untuk mendapatkan hak dan kebebasannya. Bersiap-siaplah wahai para tokoh!

Sungguh, alangkah dekatnya kemenangan bagi kaum mukminin dan alangkah besarnya keberuntungan bagi para aktifis yang tak henti berjuang.

Wahai pemuda!
Barangkali ancaman yang cukup berbahaya pada bangsa yang mau bangkit –dan kita sekarang di fajar kebangkitan- adalah munculnya beragam isme, banyaknya seruanseruan, warna-warninya manhaj, perbedaan dalam penetapan strategi dan sarana perjuangan, dan tidak sedikitnya orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin dan penguasa. Berawal dari sini, maka studi perbandingan terhadap isme-isme menjadi amat penting bagi siapa saja yang menginginkan perbaikan. Dari sini pula, maka kewajiban saya adalah menerangkan kepada kalian dengan ringkas dan jelas dakwah Islam pada abad keempat belas hijriyah.

(Pengen lanjut...??baca selengkapnya di Risalah Pergerakan)

Minggu, 17 April 2011

Potret 1# (Milad Partai Dakwah)


Stadion Gelora Bung Karno (St.GBK) dijejali  pasukan putih – putih dari berbagai penjuru kaya malaikat turun dari langit (emang malikat pakaiannya putih y??), gema takbir kerap terdengar dari insan  kalangan tua-muda, pasutri muda-pasutri senior yang sudah mengorbankan waktu liburnya dateng ke GBK atau emang sengaja pengin liburan di GBK?
Bermacam bendera dengan berbagai ukuran berkibar menunjukan eksistensi dan hegemoni pesta Ulang Tahun itu. Yup kali ini ‘Bung Karno’ mengadakan pesta atau bahasa halusnya syukuran akbar salah satu partai besar yang berulang tahun (bahasa sholihnya milad-red), gue ga’ mau sebut nama partainya apa cukup inisialnya aja yaitu “PKS”. Kepanjangannya apa?? Silahkan tafsirkan sendiri….
Yah waktu itu emang ramai sangat, sempat kepikiran kalau gue ga’ dateng sebenarnya ga’ masalah toh yang dateng juga udah banyak malahan ada yang ga’ kebagian tempat dan hanya ada 2 pilihan terpaksa harus duduk lesehan di pinggir lapangan atau sengaja berdiri membiarkan seluruh berat badan tertumpu di kaki yang mulai letih. Lalu gue inget cerita salah seorang sahabat, ketika mau pergi perang nih ada sahabat yang kurang mampu n’ ga’ punya apa buat perang, dia pergi menghadap Rosul terus minta biar dia bisa ikut perang. Namun sayang Rosul belum membolehkannya, tapi si sahabat ini ga nyerah gitu aja so dia menghadap Rosul lagi dengan rasa harap dan keinginan yang menggebu tulus dari relung hati yang terdalam. Akhirnya dia boleh ikut perang, nah terus dateng nih sahabat yang lain tanya sama beliau “Kau tidak punya bekal apa – apa untuk berperang, bahkan senjata dan pelindung pun kau tak ada..kenapa kau mau pergi berperang?” dengan simple dijawab gini “aku memang tak punya bekal apa – apa, aku juga tak punya senjata untuk berperang tapi apakah aku tak boleh menjadi titik di antara sekian banyak pasukan muslim? yang dengan semakin banyak titik dalam barisan kaum muslimin  akan mengguncang perasaan, menyiutkan nyali musuh bahwa pasukan yang siap menjemput syahid juga semakin banyak”. Inget kisah itu gue yakin walaupun saat itu gue cuma duduk-duduk n’ ga’ ngapa-ngapain tapi kini gue yakin hadir sebagai titik yang akan semakin menggentarkan musuh – musuh Allah.
 Yang paling gue rasain bener dan itu sempet buat gue merinding, baru pertama gue lihat dengan mata kepala sendiri ratusan ribu orang berbaris rapi. Ga’ kebayang kalau di serang orang sebanyak itu. Gue langsung inget gimana ya ketika zamannya Rosulullah? Setiap perang harus dihadapi dengan jumlah yang ga’ seimbang 300 : 1000, 1000: 3000 atau yang paling ekstrim saat perang mu’tah 3000 pasukan muslim melawan 200.000 pasukan Romawi. Mungkin kalau yang gue lihat di GBK ya kira – kira 2 tribun melawan hampir satu stadion GBK. Sangat dahsyat gan…Bener-bener ga’ kebayang satu orang harus melawan berapa puluh orang? Tapi Allah Yang Maha Kuat menunjukan kekuatanNYA, Allah Yang Maha Agung menunjukan KeagunganNYA dan kisahnya berakhir dengan happy ending. Mungkin sudah menjadi suatu Sunatullah bahwa orang yang mau menggerakan dakwah jumlahnya sedikit, hanya dengan keimanan yang kuat, tekad yang membaja, ikhtiar yang tiada henti serta munajat beriring doa atas izin Allah dakwah itu akan menggapai kemenangan yang dirindukan.
Bekerja untuk Bangsa, Bekerja untuk Negeri dan Bekerja untuk Ummat…..

Jumat, 15 April 2011

Eco Labelling, Sebuah Konsep Pelestarian Alam Berbasis Ekonomi


Bencana banjir yang akhir – akhir ini terjadi di sejumlah daerah di negeri kita tercinta seperti di Kudus, Gresik, Papua, dan Sumatra Utara membuat hati bertanya kapan bangsa ini tak ramai dengan bencana? Sudah Menjadi rahasia umum bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah cuaca yang tak menentu akibat Climate change. Climate change yang salah satu gejalanya ialah global warming (pemanasan global) memang sudah menjadai isu Internasional dimana semua Negara terkena dampaknya, badai salju di Amerika, mencairnya es di kutub utara dan antartika merupakan sepenggal kecil efek climte change. Beberapa fakta menyebutkan fenomena ini terjadi karena tereduksinya lapisan ozon (O3) akibat emisi gas yang semakin banyak sedang hutan sebagai paru – paru dunia semakin sedikit. Jika melihat lingkup Indonesia, emisi yang menjadi polusi tidaklah sebanyak Negara – Negara barat yang sangat mengandalkan Industri namun Indonesia juga menyumbang hilangnya hutan sebagai penetral polusi dan sebagai daerah resapan air.
Dunia pun mulai paham dan sadar akan gejala alam yang menjadi bencana global, dalam beberapa puluh tahun terakhir ada beberapa kebijakan dan perjanjian sebagai upaya menekan laju global warming antara lain Protocol Montreal yang merupakan perjanjian unutuk menekan depresi ozon yang berada di atmosfer dengan membatasi perdagangan Chloro Fluoro Carbon (CFC), gas yang dapat mereduksi ozon sehingga terjadi efek rumah kaca. Selain Protocol Montreal ada juga kebijakan debt for nature swaps yaitu lembaga pecinta lingkungan di Negara – Negara maju ‘menangani’ atau membayar sebagian hutang Negara berkembang dengan syarat Negara tersebut harus melakukan upaya perbaikan lingkungan. Lalu kebijakan yang baru diterapkan beberapa yahun lalu oleh Negara barat khususnya Eropa adalah penerapan ecolabel (Eco Labelling) untuk komoditas yang diperdagangkan secara internasional.
Secara umum, Eco Labelling menuntut bahwa setiap produk dagangan harus telah didasarkan pada kelestarian sumber daya dan ekosistem dari lingkungan hidup. Dimulai dari pengambilan bahan baku (misalnya kayu), pengangkutan bahan baku ke pabrik, proses dalam pabrik, pengangkutan produk pabrik ke konsumen, pemakaian produk dan pembuangan sampahnya (bekas pakai dari produk) secara keseluruhan tidak mencemari lingkungan(akrab lingkungan). Sertifikasi Eco-Labelling di bidang perkayuan adalah suatu cara untuk memberikan informasi kepada konsumen mengenai produk kayu yang dipasarkan kepadanya dalam bentuk suatu sertifikat atau Eco-Labell yang menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal atau dihasilkan dari suatu konsensi hutan yang dikelola secara lestari.1
Walaupun memang perlu diakui sertifikasi Eco Labelliing ini bukanlah hal yang murah, ini akan mengakibatkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang belum terlalu mapan akan tergilas. Sebab Negara di Eropa dan Amerika sudah memasukan sertifikat Eco Labelling syarat  komoditi, terutama kayu, masuk ke negaranya. Namun dampak negative ini masih relatif kecil jika dibandingkan benefit atau manfaat  yang dirasakan baik secara ekonomi maupun lingkungan.
Pada sisi ekonomi benefit ini dirasakan oleh UKM yang bersertifikat, khususnya yang memproduksi furniture kayu dan diekspor ke pasar Amerika dan Eropa. Dini Rahim, senior koordinator home furnishing Senada (konsultan yang didanai USAID), ia mengatakan kalau UKM Indonesia mengikuti prosedur dan tahapan dalam modul sustainable practises, maka produk furnitur buatan Indonesia akan semakin diterima pasar global. Apalagi, persaingan furnitur di pasar dunia makin ketat. “Kalau mengandalkan desain, mungkin desain dari Italia lebih bagus. Kalau mengandalkan harga murah, mungkin harga dari China lebih murah. Jadi, salah satu cara agar furnitur Indonesia mendapatkan hati di konsumen dunia adalah dengan adanya label dan sertifikasi produk,”2. Adanya Sertifikat Eco Label akan membentuk kepercayaan pada komoditi kayu  yang diekspor adalah komoditi yang ramah lingkungan. Hal tersebut dirasakan betul oleh PT Jawa Murni Lestari, UKM yang bergerak di bidang home furnishing. Selama krisis finansial yang mendera dunia belakangan ini, omzet perusahaan anjlok sampai 20%. Tetapi, karena perusahaan mengantongi sertifikasi, permintaan dari pasar luar negeri terus berdatangan. Walhasil, ketika perusahaan lain kolaps karena gonjang-ganjing ekonomi dunia, mereka masih bertahan. Bahkan, berhasil meraih laba bersih 1,13%.­3
Pada prespektif Lingkungan, kebijakan Eco label yang mengharuskan komoditi kayu yang diperdagangkan adalah kayu yang mulai dari proses pangambilan bahan baku sampai pemasaran produk dilakukan denagn ramah lingkungan. Bahkan ada beberapa Negara memastikan terlebih dahulu kayu tersebut bukanlah kayu hasil ilegalloging. Sehingga adanya eco label bisa menekan ilegalloging yang cukup merebak di berbagai daerah di tanah air.

1 www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/JAMBI/eco_labeling.html
2 Majalah Duit.co.id Senin, 30 November 2009
3 Majalah Duit.co.id Senin, 30 November 2009

Selasa, 12 April 2011

Kedudukan As Sunnah dalam Islam


As sunah merupakan penafsiran Alquran dalam penerapan ajaran islam secara faktual dan ideal. Seperti yang dinyatakan oleh aisyah r.a ketika ditanya oleh ayahnya tentang akhlak nabi “Akhlak beliau adalah Al Quran” sebagai penerapan ajaran islam maka Rasulullah ibarat Al Quran yang berjalan. Oleh karenanya siap yang ingin mengetahui ajaran islam lebih rinci dapat mempelajari Sunnah Nabawiyah yaitu: ucapan, perbuatan dan persetujuan nabi SAW.

Manhaj islam adalah manhaj yang komprehensif, seimbang, dan memudahkan. Komprehensif disini meliputi panjang rentang waktu kehidupan manusia sejak lahir sampai ia mati, lebar meliputi seluruh aspek kehidupan dan dalam mencakup “kedalaman” kehidupan seperti tubuh, akal dan ruh. Seimbang maksudnya ada di tengah-tengah seperti dinyatakan dalam QS Al Baqarah : 143 yaitu umat yan di tengah-tengah, maka ketika Nabi melihat sahabatnya condong ke arah “berlebihan” atau “ kekurangan” beliau segara megembalikan ke tengah (moderat). Memudahkan, islam dan sunnah nabi tidak ada yang memberatkan sesuai sabda Rasul “Sesungguhnya aku ini rahmat yang dihadiahkan (untuk seluruh manusia) dan firman Allah “Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” Al anbiya :107.

Kewajiban kaum muslim terhadap As sunnah
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Sunnah nabi adalah manhaj terinci bagi seorang muslim dan masyarakat muslim. Adalah kewajiban kaum muslim untuk memahami manhaj nabawi yang terinci dengan ciri khasnya yang komprehensif, saling melengkapi, seimbang dan penuh kemudahan seperti generasi muslim terbaik. Namun Rasul mengisyaratkan tentang apa yang akan menimpa ilmu kenabian serta warisan risalah akibat ulah kaum ekstrem, sesat dan bodoh. Kaum ekstrem telah menjauh dari jalan tengah,jalan lurus yang lapang, dan kemudahan yang sifat kewajiban syariat ini. Si kap Ghuluw (berlebih-lebihan) telah menjauhkan mereka. Kaum sesat melakukan manipulasi yang dimasukan ke dalam manhaj nabawi dengan bid’ah yang bertentangan dengan watak asli manhaj islam. Lalu penafsiran oarang jahl (bodoh) yang merusak hakikat agama islam, menyelewengkan konsepnya dan mengurangi integritasnya dengan menghilangkan berbagai hukum dan ajaran dari batang tubuhnya. Itu karena tidak adanya pijakan yang kuat dalam ilmu atau dalam upaya mencari kebenaran.

Beberapa prinsip dasar dalam berinteraksi dengan As sunnah An nabawiyah.
Hendaknya siapa saja yang hedak berinteraksi dengan As sunnah sebaiknya berpegang pada beberapa prinsip, pertama menelti dengan seksama tentang keshahihan hadits yang dimaksud sesuai denagn acuan ilmiah yang telahdietapkan oleh para pakarhaits yang dipercaya. Kedua meaami dengan benar nash-nash yang berasal dari nabi sesuai dengan pengertian bahasa dan dalam rangka konteks hadits tersebtserta sebab wurud oleh beliau, juga dalam kaitan dengan nash-nash Al Quran dan sunnah yang lain. Ketiga,memastikan bahwa nash tersebut tidak bertentangan dengan nash lainya yang lebih kuat kedudukannya baik yang berasal dari Al Quran atau hadits lain yang lebih banyak jumlahnya atau lebih shahih.

          As sunnah adalah sumber kedua dalam islam dalam bidang tasyri’dan dakwah sehingga agar As sunnah dapat memenuhi fungsinya harus terlebih dahulu kita meyakini bahwa hadits tersebut benar-benar beraal dari nabi SAW oleh karenanya ada ketentun dalam penentuan derajat hadits, hadit yang kita jadikan dasar bagi kesimpulan hukum atau dakwah adalah yang berpredikat shahih atau hasan. Menolak hadits shahih sama saja menerima hadits palsu, menerima hadits palsu merupakan perbuatan “memasukan sesuatu yang bukan dari agama ke dalam agama” sedang menolak hadits shahih berarti “mengeluarkan dari agama sesuatu yang merupakan bagian dari agama”. Keduanya adalah perbuatan tercela dn tak dapat diterima, baik berupa penerimaan sesuatu yang bathil atau penolakan sesuatu yang haqq. Namun ada yang menolak hadits shahih karena pemahaman yang keliru, ada sebagian orang yang menbaca hadits tergesa-gesa lalu mndapati makna tertentu khayalanya yang dijadikan sebagai bahan menafsirkan hadits tersebut. Dan manakala akalnya tidak menerima makna hadits tersebut  maka ia akan menolaknya. Padahal seandainya mau bersikap jujur dan adil serta merenung dan meneliti niscaya akan diketahui makna hadits itu tidak seperti yang ia pahami.