Senin, 26 Maret 2012

Social Movement, Transformasi Kepedulian terhadap Permasalahan Sosial di Tanah Air



Berbicara tentang mahasiswa dan pemuda maka tak akan pernah kehabisan ide untuk membahasnya, bagaimana tidak? Merekalah tulang punggung negara, bahkan bangsa ini merdeka pun atas desakan golongan muda. Sehingga pantas jika ada yang mengatakan bahwa dalam setiap kebangkitan zaman pemudalah yang menjadi pilar-pilarnya.
Mendengar kata pemuda dan mahasiswa satu kata yang terbesit adalah pergerakan, sebagaimana peran pemuda dan mahasiswa yang merupakan agen perubahan, control sosial, dan cadangan SDM masa depan. Namun pergerakan mahasiswa dan pemuda saat ini telah mengalami pergeseran, bukan pergeseran tujuan akan tetapi lebih kepada cara atau metode yang dilakukan. Ini terjadi akibat kondisi masyarakat dan pemerintahan yang seiring berjalannya waktu mengalami perubahan, dunia perpolitkan yang semakin dinamis, serta kebebasan berekspresi yang tumbuh subur di era demokrasi ini.
Pada decade awal reformasi, pola pergerakan mahasiswa -bisa kita katakan pemuda pada umumnya- lebih kepada menjalankan peran control sosial, mereka menjalankan perannya dengan baik. Mengkritik kebijakan pemerintah, menuntut kesejahteraan rakyat dengan aksi turun ke jalan bahkan tahun 2008 seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)melahirkan Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat). Ketujuh gugatan itu mencakup nasionalisasi aset strategis bangsa, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan merata, penuntasan kasus BLBI dan korupsi, kedaulatan di sektor pangan, ekonomi dan energi, jaminan ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok, reformasi birokrasi dan pemberantasan mafia peradilan, serta penuntasan lingkungan Indonesia dan menuntut Lapindo Brantas. Ini merupakan hal yang positif, mengapa? Karena aksi-aksi atau pergerakan yang dilakukan tumbuh dari naluri kepedulian dan wujud keprihatinan yang terhadap permasalahan bangsa. Pemerintah pun menganggap mahasiswa sebagai kekuatan yang besar,sehingga control terhadap pemerintah pemerintah bisa berjalan dengan baik.
Aksi semacam ini masih menjadi alat pergerakan utama mungkin karena pengaruh peristiwa ’98 yang pada saat itu dengan turun ke jalan, mahasiswa bergabung dengan rakyat mampu menjatuhkan rezim Orde Baru yang telah lama bercokol di tahta kepemimpinan RI 1. Mungkin gerakan semacam itu masih menjadi frame pergerakan pemuda beberapa tahun pasca peristiwa ’98, namun kini aksi dengan turun ke jalan atau unjuk rasa kini seakan-akan telah kehilangan peminatnya. Jumlah demonstran semakin berkurang dari aksi ke aksi, entah sudah jenuh dengan model pergerakan seperti itu atau mahasiswa sudah lelah karena tidak ada langkah nyata yang dilakukan pemerintah atau bahkan sangat memprihatinkan jika naluri kepedulian itu yang mulai berkurang.
Namun kini mulai merebak model pergerakan sosial atau sering kita kenal social movement sebagai bentuk transformasi pergerakan dari turun ke jalan mengkritisi pemerintah menjadi kontribusi nyata langsung ke masyarakat. Banyak model gerakan seperti ini sekarang yang sudah me-nasional, seperti Indonesia Mengajar yang di gagas Anis Baswedan, Indonesia Berkebun oleh Ridwan Kamil, Indonesia Menanam serta banyak gerakan serupa yang mereka terjun langsung ke masyarakat. Atas dasar keprihatinan  dan dengan ide yang dimilikinya, mereka mencoba menuntaskan permasalahan rakyat. Bahkan Ridwan Kamil mengatakan dalam seminar ‘Kontribusi’ PPSDMS jika hanya mengandalkan negara saja maka tidak akan selesai-selesai persoalan yang dihadapi, sehingga  -yang merasa- pemudalah yang harus turun tangan karena manusia dilahirkan Indonesia pasti bukan tanpa tujuan, ada maksud tertentu mengapa kita dilahirkan di Indonesia, dan salah satu maksud itu yakni mengambil peran untuk menyelesaikan polemik dan persoalan yang dihadapi masyarakat di negeri tercinta ini.
Gerakan sosial ini tumbuh begitu pesat, semakin tahun semakin banyak orang yang mendukung gerakan ini. Faktor yang paling mempengaruhi yaitu adanya perkembangan teknologi yang semakin maju seperti facebook dan twitter. Melalui media inilah gerakan ini mampu menyentuh nurani yang terdalam  bahwa dengan kontribusi yang ‘kecil’ ternyata mampu memberikan manfaat langsung tanpa bantuan pemerintah. Contoh yang paling terkenal adalah kasus ‘Koin Untuk Prita’ dimana melalui media social network  gerakan ini mampu menjaring banyak pihak baik secara member dalam grup facebook atau pengumpulan langsung yang dilkukan di beberapa daerah. Social movement memang menjadi model gerakan di era baru disaat mahasiswa mulai berkurang minatnya dengan aksi turun ke jalan ternyata gerakan ini mampu tampil men-transformasikan kepedulian dalam tindakan nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar