Senin, 26 Maret 2012

Ketika Hati Menyatu


Mungkin salah satu momen yang dinanti oleh setiap insan yang beriman adalah ketika ia tiba di saat menentukan dimana batas antara laki-laki memudar, saat dimana selesainya tanggung jawab orang tua terhadap putrinya, juga saat memasuki gerbang untuk mencetak generasi robbani yakni pernikahan. Di saat itulah 2 orang manusia yang berbeda jenis, berbeda karakter, berbeda pemikiran dan pandangan berhimpun menyamakan persepsi satu sama lain, mencoba untuk mengurangi ego pribadi dan tentu saja menentukan visi dan misi bersama yang akan dicapai selama mereka berkeluarga sehingga diantara mereka sudah tidak ada lagi kata “aku” dan “kamu” tetapi kedua kata itu melebur menjadi sebuah kata yang maknanya sarat akan kebersamaan yaitu “kita”.
Jika keluarga bisa dianggap sebagai miniatur suatu negara maka negara pun sudah seharusnya menerapkan hal di atas (mencari titik temu dan kebersamaan-red) karena pastilah mereka yang berada di kursi pemerintahan sudah berkeluarga. Betul? Namun pada kenyataannya di pemerintahan sana masih mementingkan ego, baik itu ego pribadi maupun ego kelompok. Banyak kasus yang sampai saat ini masih mengambang seperti kasus century, lapindo, mafia pajak dll. Penyebabnya sepele ada yang ribut apakah kita harus buat Panja (Panitia Kerja) ataukah Pansus (Panitia Khusus) Angket seperti yang terjadi pada kasus century dan mafia pajak maupun kisruh cicak vs buaya antara KPK melawan Polri yang benar-benar menunjukan adanya politik kepentingan di dalamnya, belum lagi jika ada pembahasan RUU maka partai yang merasa di untungkan akan mendukung sedang partai yang merasa dirugikan akan menolak. Banyak yang masih mendebatkan bahwa kita harus buat UU ini dan UU itu, banyak pula yang berbicara ini tugas lembaga ini dan itu tugas lembaga itu, masih banyak pula yang mengatakan ini hak dan wewenang saya dan itu hak dan wewenang kamu. Apakah ini karena ego pribadi (kelompok) yang masih kuat ataukah tidak adanya visi dan misi bersama atau visi dan misi bersama itu hanya sebuah formalitas hitam di atas putih??
Lalu bagaimana dengan pergerakan dakwah?? Apakah kata “kita” sudah terpatri dalam sanubari masing - masing individu??
Kita semua tahu kalau dakwah itu perbuatan mulia yang Rasul pun melakukannya, maka pelaku dakwah pun tak kalah mulianya. Kita pun tahu bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir, bahkan mungkin sebagian dari kita sudah hafal ayat yang mengatakan bahwa Allah menyukai hambaNYA yang berperang di Jalan Allah dengan teratur seperti suatu bangunan yang kokoh. Namun apakah hanya sebatas terorganisir dan teratur saja? Tentu tidak!!
Kita sering bebicara tentang perubahan, tentang peradaban, atau tentang menabur dan menebar kebaikan tapi perlu diperhatikan apakah kita sudah bekerja sama atau hanya bekerja bersama? Sudahkah kita meleburkan kata “aku” dan “kamu”? hingga tidak ada lagi kata ini tugas saya dan itu tugas kamu tetapi ini adalah tugas KITA, tidak ada kata ini hak dan kewajiban saya dan itu hak dan kewajiban kamu tetapi ini adalah hak dan kewajiban KITA, tidak ada lagi ini masalah saya dan itu masalah kamu tetapi ini adalah masalah KITA, tidak ada lagi ini untuk saya dan itu untuk kamu tetapi ini untuk KITA. Tidak ada pula yang berkata saya kan bukan organisasi ini, saya kan bukan organisasi itu tetapi organisasi itu adalah milik KITA. Dan ketika dalam dakwah ketika kata “aku” dan “kamu” bersatu menjadi “kita” maka akan memunculkan kinerja dengan multiplier efek yang besar karena tidak dilakukan oleh “aku” atau “kamu” tetapi dilakukan oleh “kita”.
Karena…
Ketika Aku dan Kamu bersatu semua terasa ringan
Ketika Aku dan Kamu bersatu semua terasa indah
Ketika Aku dan Kamu bersatu kita mampu merubah dunia…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar