Selasa, 23 Oktober 2012

Penggembala, Teladan Rasul dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan


 “di tempat terbuka ini, kehidupan memberikan kau kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni dengan tanpa hambatan.” (Umar bin Khattab)

Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dalam Firman-NYA Allah menyebutkan “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah – khlaifah di muka bumi...” (Q.S 35:39) sehingga sudah menjadi suatu fitrah dalam suatu kelompok, komunitas maupun institusi pastilah ada pemimpinnya, baik itu pemimpin formal maupun non formal. Bahkan dalam kelompok kecil sekalipun keberadaan pemimpin sangat dibutuhkan seperti yang dipesankan oleh nabi Muhammad “jika kalian bepergian maka angkatlah salah seorang diantara kalian menjadi pemimpin.”(Al Hadits)

Keberadaan sosok pemimpin merupakan peran vital dalam sebuah komunitas, dialah yang mengarahkan dinamisasi kelompok, menyelesaikan perkara yang terjadi diantara anggotanya, bertanggung jawab atas komunitasnya serta bisa juga merupakan simbol dari suatu komunitas. Tanpa adanya pemimpin, komunitas itu akan stagnan tidak ada pergerakan yang dinamis. Efeknya keberadaan komunitas itu pasti tidak akan bertahan lama. Contoh kecil dalam adegan peperangan yang sering kita tonton di televisi, jika salah satu pemimpin diantara dua kubu mati maka perang pun berakhir, pasukan yang kehilangan pemimpin ditawan dan daerahnya dikuasai. Eksistensi mereka sebagai pasukan sudah tidak ada lagi.

Sosok pemimpin ideal selalu menjadi topik yang hangat ketika ada suatu pemilihan baik itu tingkat desa, daerah, provinsi hingga tingkat nasional. Kata pemimpin ideal muncul karena dari berbagai pengalaman tidak semua pemimpin itu mampu menjalankan fungsinya dengan baik, bahkan keberadaan pemimpin justru menyengsarakan anggotanya. Banyak pemimpin yang ketika dia memimpin justru tidak dipercaya oleh masyrakatnya sehingga muncul-lah pergolakan dari arus bawah yang menginginkan pemimpin itu mundur. Berita terhangat saat ini yakni pergolakan Suriah, pergolakan yang cukup menyedot perhatian dunia. Pemerintah Suriah bertindak otoriter terhadap warga yang membangkang, bahkan perdana menteri Turki mengatakan Suriah telah berubah menjadi negara teroris yang melakukan pembantaian massal terhadap rakyatnya sendiri. Namun jauh sebelum pergolakan Suriah, ada beberapa pemimpin yang berhasil “diturunkan” oleh rakyatnya diantaranya Presiden Indonesia Soeharto pada tahun 1998, Zainal Abidin bin Ali atau biasa disebut Ben Ali presiden Tunisia pada tahun 2011 , Muamar Khadafi presiden Mesir pun pada tahun 2011

Jika kita berbicara sosok pemimpin ideal maka sudah sepatutnya kita menjurus ke satu nama yaitu Muhammad SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (Q.S 33: 21), Allah sudah menjamin bahwa dalam diri Rasulullah terdapat keteladanan termasuk jika kita berbicara pemimpin dan kepemimpinan. Banyak sekali kisah yang menceritakan tentang bagaimana kepeimpinan Rasulullah baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, bernegara hingga kepemimpinan dalam berperang. Oleh karena itu sekarang ini berkembang kepemimpinan profetik, kepemimpinan ala nabi. Kepemimpinan yang lebih banyak mengambil hikmah dari al qur’an dan memadukannya dengan menggali lebih dalam makna kepemimpinan para nabi, terutama nabi Muhammad.

Kepemimpinan nabi Muhammad bukan serta merta langsung Allah berikan kepada beliau, namun Allah memberikan kepemimpinan itu melalui proses yang luar biasa. Salah satu metode pengajaran agar Muhammad SAW menjadi pemimpin yang tangguh adalah dengan menjadikan beliau sebagai penggembala di usia belia. Menjadi penggembala merupakan amanah yang besar, mesti menjaga hewan peliharaan dengan baik, memberi makan, menggiring ke padang rumput dan kembali ke kandang, memastikan jumlah yang keluar dan yang kembali ke kandang sama, ini bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kepekaan perasaan agar seseorang mampu menggiring hewan, butuh kemampuan untuk memahami karakter masing – masing hewan hingga pada titik tertentu akan mengerti apa yang mesti dilakukan jika hewan peliharaan itu memberikan isyarat. Menjadi penggembala, proses inilah yang membentuk Muhammad SAW sebagai pemimpin jika terhadap hewan peliharaan beliau mampu menjaga dan memeliharanya dengan baik apalagi terhadap manusia yang sudah dibekali Allah akal untuk berpikir.

Seperti itulah cara Allah membekali karakter pemimpin dalam diri Rasulullah, hasilnya tak bisa diragukan lagi. Proses menjadi penggembala juga dialami oleh beberapa sahabat Rasul, salah satunya Umar bin Khattab. Sebuah dialog dalam film Omar, ketika Umar sedang bercakap dengan saudaranya di padang gembalaan,
 di tempat terbuka ini, kehidupan memberikan kau kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni dengan tanpa hambatan. Dan untuk unta, ketika kau memperlakukan mereka seperti yang aku lakukan, kau akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pengurusan yang layak, kau akan bisa mengenal mereka secara individual. Tiap - tiapnya memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuannya sendiri. Tiap berkumpul pada kawanannya, tapi tidak ada 2 unta yang identik. Ketika kau menyadari penuh akan hal ini, kau mengurus mereka sebagai kawanan, tetapi kau melihat mereka sebagai individu. Kau akan baik kepada mereka sebagaimana ibu baik kepada anak-anaknya. Dimana ini berlaku untuk unta, inipun lebih berlaku lagi kepada manusia. Hidup mereka tak akan berkembang sampai mereka punya pemimpin yang mengurus urusan mereka.
Kalimat itulah yang terlontar dari mulut Umar ibnu Khattab ketika menggembala unta – unta Khattab. Tak disangka beberapa puluh tahun kemudian seorang penggembala seperti Umar menjadi pemimpin kaum muslimin (Amirul Mukminin). Ini merupakan bukti bahwa para pemimpin terdahulu selalu belajar dari pengalaman dan kearifan lokal, hal yang sama pun bisa dilakukan oleh pemimpin saat ini, tidak harus menjadi penggembala terlebih dahulu akan tetapi meneladani bagaimana ia mau belajar dan mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa kemudian mengaplikasikan dalam karakter kepemimpinannya. 

Pemimpin itu tidak dilahirkan tapi diciptakan, kepemimpinan itu tidak diwariskan namun ia dibentuk melalui proses yang tidak sebentar. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang menyadari akan peran dan fungsinya sebagai khalifah (wakil Allah) di muka Bumi serta menyadari bahwa posisi yang ia dapatkan semata-mata rahmat dari Allah, bukan karena usaha dan kerja kerasnya. Oleh karena itu tanggung jawab yang ia emban bukan hanya kepada orang – orang yang dipimpinnya akan tetapi juga kepada Allah sebagai pemberi kuasa terhadap dirinya, seperti sabda nabi Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak (Al Hadits)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar