Selasa, 23 Oktober 2012

Sebuah Cerita : Cinta Monyet #1 (Ganjil)


Pagi ini tetap seperti biasanya, udara dingin seperti beberapa hari sebelumnya, jalanan becek mungkin karena setiap sore dan malam turun hujan, bunyi bel di kosan yang membangunkan seluruh penghuni pertanda waktu subuh sudah tiba. Suasana seperti ini tidak ada yang berubah, hanya saja ada sebuah perasaan ganjil ketika aku terbangun tadi. 

Hari ini adalah hari yang spesial, ini adalah hari pertama ujian tengah semester dan UTS ini juga UTS terakhirku di kampus ini, Amiinn.... Persiapan ujian dikampus beda dengan persiapan ujian anak kecil yang semua peralatan diperiksa mulai dari pensil, pulpen, catatan, tas, sepatu, pakaian, bekal dll. Bagi mahasiswa beberapa persiapan tadi juga dilakukan hanya satu hal yang membuat beda anatara anka kecil dan mahasiswa, anak kecil berangkat ujian masih membawa buku catatan sedangkan mahasiswa hanya membawa fotocopy slide, bukan catatan apalagi text book. 

Persiapan menjelang ujian mulai dari mandi hingga menyisir rambut sudah kulakukan, ku langkahkan kaki dengan mantap dan percaya diri, menyusuri jalan – jalan kecil menuju kampus, dan melewati anak –anak SMP yang berangkat sekolah. Ada yang berangkat beramai ramai seperti mau tawuran, ada yang sendirian tanpa teman ada pula yang berangkat berpasangan laki-perempuan, ah memang masa-masa SMP itu masa paling galau. Namun melihat pemandangan tadi jadi teringat dengan perasaan ganjilku tadi pagi, perasaan galau tentang cinta dan seseorang. Jujur meskipun itu memori yang cukup menyedihkan namun aku tidak pernah melupakan itu, kenapa? Karena masa lalu kita adalah kenangan, walaupun terkadang itu menyakitkan namun justru itu lah yang membuat kenangan kita lebih berwarna, ya setidaknya buatku itu lebih berwarna. Bahkan sering kali aku merasa lucu jika mengingat kenangan itu.

Namaku Dani, lahir di sebuah kampung kecil di kota yang berjuluk kota Adipura, walaupun sebenarnya termasuk daerah yang tertinggal tapi bagiku itu merupakan prestasi tersendiri bagi kotaku yang sejuk dan selalu ku rindukan ini. Aku lahir dari pasangan guru dan pedagang, ya bapakku adalah guru madarasah ibtidaiyah di kecamatan. Aku pernah ikut bapak pergi ke sekolah, kebetulan waktu itu aku merengek untuk ikut dan bolos tidak pergi sekolah. Awalnya bapak tidak memperbolehkan namun aku nekat dan langsung memeluk dan menempel di kaki bapak, entah karena kasihan atau malah kesal direpotin akhirnya bapak mengizinkan aku untuk ikut. Kami harus berjalan menanjak kurang lebih 20 menit agar sampai ke pinggir jalan dimana angkot sudah menunggu kami, naik angkot adalah pengalaman paling menyenangkan saat aku masih kecil. Posisi kesukaanku adalah di depan deket dengan jendela, tak perlu AC di angkot yang penting dapat angin cepoi-cepoi sudah senang. 15 menit sudah kami naik angkot, kukira sudah dekat karena di sekitar kami turun terdapat sekolah juga. 

“Pak, udah nyampe ya?” tanyaku, “belum, kita mesti jalan lagi. Sebentar lagi sampai kok” balas bapak.

Ternyata benar kami mesti menuruni jalan raya yang biasa digunakan untuk mengangkut batu kapur, debu berterbangan dimana-mana, walaupun mesti menutup mulut dan hidung kami tetap berjalan menuju sekolah bapak. Tak terasa 30 menit sudah kami berjalan akhirnya sampai juga, aku sangat kagum dengan ayahku karena untuk mengabdi sebagai guru yang gajinya tidak seberapa beliau harus menempuh perjalanan kurang lebih selama 1 jam, belum lagi perjalanan pulang ke rumah 1 jam pula. Yang membuatku lebih kagum lagi bapak sudah menjalani tugasnya sebagai guru disekolah ini selama 25 tahun tanpa bantuan kendaraan, hanya ada angkot itupun tidak sebanding dengan lama waktu yang mesti ditempuh dengan berjalan kaki.

Ibuku pedagang pakaian di pasar kecamatan sebelah, walaupun lebih jauh namun akses ke sana lebih mudah karena banyak angkot yang rutenya melalui pasar itu. Ibuku termasuk orang yang tahu bagaimana membahagiakan anaknya, setiap ibu pulang aku selalu dibawakan oleh-oleh, oleh –oleh yang sering kudapat dan paling kusukai itu jajanan snack ringan yang di dalamnya ada hadiah berupa mainan yang bentuk berbagai macam. Aku selalu mengumpulkan mainan dari hadiah itu, pernah iseng –iseng menghitung berapa mainan yang aku punya, mainanku hampir mencapai 100 buah hanya dari hadiah snack itu aku tak pernah berpikir bagaimana ibu membeli oleh-oleh itu yang kupikirkan dan kutanyakan setiap ibu pulang adalah “mana oleh-olehnya?”. Yah ibu selalu membawakan oleh-oleh dari pasar walaupun sebenarnya di pasar jualan bajunya tidak begitu laku bahkan pernah tidak ada pembeli sama sekali di hari itu. Pasar pakaian tempat ibu berjualan paling ramai saat menjelang lebaran dan menjelang masuk sekolah, di luar itu sepi pembeli bahkan tidak ada pembeli merupakan hal yang sering terjadi. Aku tidak bermaksud agar aku dikasihani tapi ini adalah kenyataan yang dirasakan oleh orang tuaku dan aku bangga kepada mereka, itu sekilas tentang latar belakang keluargaku, sebenarnya aku punya kakak perempuan, namanya Dina. Tapi lain kali akan kuceritakan tentang mbak Dina, sekarang balik lagi ke cerita awal.

Aku sekarang sudah kelas 3 SD, banyak murid yang ingin loncat setelah naik kelas 2 langsung ke kelas 4 saja. Hal yang tidak mungkin, tapi namanya juga anak – anak imajinasi mereka selalu di atas normal. Salah satu hal yang menyebabkan anak-anak berkeinginan seperti itu karena guru yang menjadi wali kelas saat itu terkenal killer alias sangat galak sehingga anak-anak menjadi takut. Setiap mengajar guru itu selalu membwa “gitik” semacam tongkat untuk menunjuk tulisan di papan tulis, jika ada murid yang tidak memperhatikan maka langsung dipukulah “gitik” itu ke papan tulis dan menimbulkan suara yang mengagetkan, kalau ada murid yang ditanya tapi tidak bisa menjawab dipukulkan lagi “gitik” itu ke meja anak itu, bagiku kelas 3 masa yang cukup mengerikan. Namun memori pertama yang ku ingat juga saat kelas 3, terutama saat pembagian rapor kenaikan kelas.

Dari sekian banyak peristiwa saat aku SD, entah kenapa hal ini yang pertama ku ingat. Saat SD aku termasuk bintang kelas, bukan untuk bermaksud sombong dari kelas 1 sampai kelas 3 aku selalu ranking 1 atau ranking 2. Aku selalu bersaing ketat setiap catur wulan dengan seorang temanku, seorang perempuan bernama Lia. Bila aku ranking 1, Lia pasti ranking 2 begitu sebaliknya. Hingga saat pembagian rapor catur wulan ketiga di kelas 3, ibuku mengambilkan raporku dan sama seperti pembagian rapor sebelum-sebelumnya murid-murid yang lain langsung menghampiri menanyakan berapa nilaiku dan rangking berapa, dengan pelan ibu menjawab “Dani ranking 1 nilainya 89” langsung teman-teman yang lain ikut mengerubungi ingin melihat nilaiku per mata pelajaran dan membandingkan dengan nilai mereka. Aku selalu senang saat - saat seperti ini seolah – olah teman – teman mengatakan “ wah, Dani hebat!!”, ibu lalu memberikan rapornya dan mengajakku pulang tapi aku enggan beranjak pulang, ada sesuatu hal yang mesti aku pastikan. Yah, aku ingin tau beerapa nilai sainganku, Lia. Berbeda dari sebelumnya yang mengambilkan rapor Lia kali ini adalah kakak perempuannya,mbak Santi namanya. Ketika mbak Santi keluar kelas, di luar sudah cukup sepi karena mbak Santi dapat nomor urut agak di akhir, dengan malu-malu aku bertanya, 

“mbak, Lia ranking berapa? nilainya berapa?” 

sebenarnya aku basa basi saja karena tebakanku Lia pasti ranking 2 hanya saja aku tak tahu berapa nilainya. Namun aku kaget mendengar jawaban mbak Santi, tak pernah kuduga sebelumnya.

“Selamat ya Dani, kamu ranking 1 lagi. Lia kali ini ranking 3 nilainya 85.”

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar